Rocky Gerung dan Kitab Suci

0
785
Rocky Gerung dan Kitab Suci

Bukan Rocky Gerung namanya jika tidak mampu membuat istilah yang mampu membawa imajinasi kita berkembang sedemikan luasnya. Suatu malam, saat menjadi pembicara terakhir di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu mengaduk aduk logika dan menantang keimanan para hadirin dan pemirsa acara yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi TVOne Karni Ilyas. Rocky Gerung membawa kita ke alam perdebatan yang sensitif. Ia menyebut dengan lugas bahwa Kitab suci itu fiksi.

Sontak, ucapan Rocky menjadi perdebatan diacara itu. Politisi Paryai NasDem, Akbar Faisal langsung embantah ucapan Rocky dan memintanya mengklarifikasi ucapan yang menurut Akbar menyinggung “urat paling sensitif” yaitu agama dan kitab suci.

Namun, Rocky berkelit, ia (katanya) sudah lebih dahulu mempelajari delik delik hukum sebelum menyampaikan pendapatnya.

Namun, pro dan kontra akibat pernyataan Rocky Gerung tidak berhenti sampai di ruang televisi itu semata. Rocky diadukan ke aparat kepolisian oleh Permadi Arya alias Abu Janda Al Bollywoodi atas tuduhan penistaan agama. Permadi tidak sendiri, ia membawa beberapa nama nama lain untuk bersamanya melaporkan Rocky.

Rocky Gerung memang nama yang akhir akhir ini menjadi buah bibir banyak orang. Ia mempopulerkan poenyebutan “Bong dengan IQ 200 sekolam”.

Sebagai intelektual kampus, Rocky dikenal juga sebagai ahli filsafat politik yang kritis, bernalar dengan logika berfikir terstruktur. Ia bahkan tak jarang diundang berbicara ke berbagai forum diskusi karena gaya yang khasnya dan juga kemampuan mengolah kata kata menjadi kalimat yang membuat orang terperangah kagum.

Malam itu, di penghujung acara ILC, Rocky mengaduk aduk logika penonton terkait ucapannya yang sangat sensitif “Kitab suci itu fiksi”. Rocky tengah bermain diksi antara kata “Fiksi” dengan kata ‘Fiktif”. Dekat, namun beda jauh artinya. Dua kata dengan susunan huruf hampir sama, namun beda jauh terjemahannya.

Baca juga  Arogansi Pendukung ‘Guru’ Pancasila yang Bikin Malu Indonesia

Tentu kita tidak boleh serta merta menyebut Rocky melakukan kesalahan. Dalam pendekatan resolusi konflik, ada tiga hal yang mesti dianalisis. Yang pertama, adalah isu, kedua posisi dan ketiga adalah kepentingan. Orang orang cenderung menghabiskan energi berdebat di isu dan posisi. Namun mereka abai pada kepentingan.

Saya justru memandang Rocky tengah membangun ruang berdialektika tentang isu isu keagamanan yang hampir tiga tahun ini menjadi isu paling dikedepankan dalam pentas politik kita.

Puncaknya adalah saat Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, isu agama menjadi isu paling banyak digoreng dan mengantarnya pada ruang pengap Rutan Mako Brimob Kelapa Dua hingga saat ini. Ahok tersandung kasus penistaan agama.

Rocky juga berhasil membuka mata kita bahwa selama ini sebagai rakyat yang mengaku paling maju dalam hal literasi, hal itu serta merta menjadi nihil karena hanya dengan dua kosa kata saja, kita sudah bersitegang urat leher. Satu pihak menyebut Rocky telah menista kitab suci dengan menyebutnya sebagai “Fiksi” dan disisi lain santai santai saja menanggapi karena menganggap apa yang diucapkan Rocky tidak menyebut nama kitab sucinya.

Bagi saya, Rocky juga telah menantang ke-Imanan kita terkait pernyataannya tersebut. Kenapa saya sebut menantang ke-Imanan. Karena apapun sebutan Rocky terhadap kitab suci, bagi saya, kitab suci adalah masalah keimanan. Sebagai muslim, saya diwajibkan percaya pada Al Qur’an. Saya kira begitu juga dengan teman lain yang berasal dari agama lain.

Namun, apakah tantangan itu harus dibalas dengan mengadukannya ke polisi. Pertanyaannya kitab suci mana yang disebut Rocky sebagai karya fiksi. Tidak ada. Disitu, menurut saya, Ia berhitung dengan cermat. Benar katanya, jika ia menyebut satu kitab suci agama tertentu, ia sudah pasti kena pasal pidana. Ini tidak, Rocky tidak menyebut Al Qur’an, atau apapun. Ia hanya bicara kitab suci. Saya sebagai muslim tidak punya delik apapun untuk dipakai guna menggugatnya ke pengadilan. Sebab ia tidak menyebut kitab suci agama saya.

Baca juga  Resmikan Pasar Murah Demokrat, SBY Ingatkan Pentingnya Berbagi

Sekali lagi, dalam pandangan saya pribadi, Rocky telah membuka ruang berliterasi dan berdialektika. Ia membuka mata dan telinga kita selama ini bahwa ruang ruang perdebatan dan berliterasi sebenarnya kurang dan apalagi berlangsung dalam suasana yang kondunsif.

Rocky Gerung juga telah membawa kita ke alam berpikir lebih terbuka dengan mengggunakan logika sederhana dan memaparkan pengertian fiksi versinya bukanlah omongan warung biasa. Ia berangkat membicarakan hal itu dari basis yang ilmiah.

Jadi, kalau hari ini ada yang melaporkan Rocky karena ucapannya, menurut saya hal itu akan mentah. Sebab, kitab suci mana yang dilecehkannya. Ia tidak menyebut agama, ayat atau bahkan nama kitab suci manapun. Cerdik.

Dan ia tahu betul kalimatnya berpotensi membuat riuh, karena itu, saya mencermati kalimat Rocky saat menjawab Akbar Faisal malam itu. “Waktu saya memilih kata kitab suci, dengan sendirinya saya menghindari menyebut nama kitabnya,”

Namun, menyikapi laporan itu, kembali terpulang kepada penyidik. Jika sudah dilaporkan, tentu sudah menjadi ranah hukum. Tinggal aparat menindaklanjuti.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here