Salah Usung Calon, Jalan Terjal Bagi PDIP di Pilpres 2019

0
1189
Salah Usung Calon, Jalan Terjal Bagi PDIP di Pilpres 2019

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terancam menelan pil pahit. Dari hasil quick count sementara, tiga provinsi dengan pemilih terbesar yang mengikuti Pilkada Serentak hari ini (27/6) Jabar, Jatim, dan Sumut, kader PDIP yang maju terancam kalah.

Hasil quick count sementara menjukkan pasangan TB Hasanudin- Anton Charliyan di Pilgub Jabar tertinggal jauh dari rival-rivalnya. Begitu juga dengan Djarot Saiful Hidayat yang dimigrasikan PDIP ke Sumatera Utara. PDIP juga terancam di basis massanya di Jawa Timur. Saat ini hasil quick count menunjukkan pasangan Kofifah-Emil yang diusung Demokrat.

Sebenarnya hasil quick count hari ini tidak berbeda jauh dengan hasil beberapa lembaga survei sebelum dilangsungkannya Pilkada. Sebelumnya, empat lembaga survei menempatkan pasangan yang diusung PDIP Tubagus (TB) Hasanudin-Anton Charliyan pada posisi paling buncit dari empat kandidat lain. Indo Barometer menyatakan elektabilitas pasangan ini sebesar 5 persen, SMRC 6,5 persen, Litbang Kompas 4,1 persen, dan Poltracking 5,5 persen.

Begitu juga halnya dengan elektabilitas Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus. Survei CSIS (16-30 April 2018) menyatakan elektabilitas Djarot-Sihar sebesar 36,6 persen, jauh di bawah kompetitornya Edy-Musa dengan 44,8 persen. Begitupun survei LSI-Denny JA (8-12 Juni 2018): Djarot-Sihar 34,7 persen, Edy-Musa 45,5 persen. Survei Median (16-25 Januari 2018) bahkan memampangkan selisih yang besar: Djarot-Sihar 19,2 persen, sedangkan Edy-Musa 33,1 persen. Survei Indo Barometer (4-10 Februari 2018) menunjukkan kemenangan yang sangat tipis untuk Djarot-Sihar dari Edy-Musa: 37,8 persen lawan 36,9 persen.

Baca juga  Airlangga Tidak Tahu Siapa Cawapres Jokowi

Hal serupa juga terjadi dikandang banteng moncong putih ini, Jatim. Himbauan Megawati kepada masyarakat Jatim untuk memilih cucu Soekarno (Puti Guntur Soekarno) tidak berdampak banyak. Survei sebelumnya, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) periode 21-29 Mei 2018 menyatakan elektabilitas pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno kalah dari Kofifah- Emil. Hasil nyaris mirip ditunjukkan survei Litbang Kompas dan Poltracking Indonesia.

Terseoknya kandidat PDIP di kantong massa yang besar menurut saya terjadi karena kegagalan PDIP dalam menyaring nama-nama kandidat potensial. Untuk Jabar, PDIP terkesan memaksakan diri dengan mengusung TB Hasanudin-Anton Charliyan. Padahal sebelumnya, Ridwan Kamil sudah beberapa kali nyaris merapat ke PDIP.

Baca juga  Tak Puas Hasil Pilkada Jateng, KPU Sarankan Prabowo Melapor

Hasil berbeda akan terjadi apabila PDIP dengan terbuka jika mengusung calon yang dikehendaki rakyat untuk Jawa Barat. Keegoisan PDIP di Jabar akhirnya membuat partai besutan Megawati ini menelan pil pahit.

Begitu juga dengan Pilgub Sumatera Utara. Keegoisan PDIP yang memigrasikan Djarot ke Sumut tentunya membuat sejumlah kader PDIP di Sumut kecewa. Padahal Sumut adalah salah satu pabrik penghasil pemimpin besar di republik ini. Men-Jawa-nisasikan Indonesia tentunya menjadi hal yang sensitive dan melukai rasa keberagaman di negeri ini.

Egosentris Soekarnoisme yang coba dibangun Megawati di Jawa Timur juga tidak membuahkan hasil. Masyarakat hari ini jauh lebih cerdas menetapkan pilihan. Kekalahan di tiga daerah ini tentunya menjadi tugas berat bagi PDIP untuk dapat bertarung di Pilpres 2019.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here