Selamat Ulang Tahun Bapak Demokrasi

0
288
HUT SBY di Cikeas, Sabtu 9 September 2017. (Foto oleh Abror Rizky - Juru Foto Pribadi Presiden RI ke 6)

Sabtu 9 September 2017 kemaren, Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab dipanggil SBY merayakan ulang tahun yang ke 68. Sosok yang tidak akan pernah bisa dihapuskan jejak karyanya dari sejarah perjalanan Bangsa Indonesia sampai kapanpun. SBY merupakan Presiden Indonesia pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, dan memimpin selama dua periode (10 tahun).

Rakyat Indonesia membuat keputusan tepat pada tahun 2004 dengan mengamanahkan SBY sebagai Presiden Indonesia ke 6. Disaat bangsa ini sedang menghadapi tantangan yang luar biasa pasca reformasi, SBY mampu menjawab dengan karya dan pengabdian yang tulus. Ekonomi Indonesia yang porak porandakan pasca krisis moneter tumbuh dengan luarbiasa. Dan SBY mengantarkan Indonesia masuk dalam jajaran G20, negara-negara ekonomi utama di dunia.

Tidak ada yang menyangka Indonesia akan begitu kokoh menghadapi krisis moneter ulangan pada medio 2007-2008. Disaat negara-negara didunia terutama di Eropa dilanda krisis, Indonesia mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonominya diatas 5 persen. Tidak mengherankan Bank Dunia takjub dengan capaian Indonesia. SBY terbukti mampu meningkatkan APBN sebesar Rp.2.048 triliun pada 2014, dari cuma Rp.347,4 triliun pada tahun 2004.

Tentu hasil itu bukan karya SBY seorang diri, seluruh rakyat Indonesia punya andil terhadap klaim keberhasilan tersebut. Tapi tentu dengan kepemimpinan yang kuat seperti dimiliki SBY, membuat kita mampu melewati badai dan rintangan dalam hidup di era demokrasi. Era kebebasan yang sebenarnya kita sendiri masih gamang untuk menjalani.

Dalam era SBY, demokrasi tumbuh berkembang dan terpelihara kemurnian cita-citanya. Hampir sepuluh tahun SBY memimpin, kita tidak mendengarkan ada pengkritik dirinya ditangkap dengan tuduhan makar. Meskipun lebih banyak bukti dibandingkan yang dituduhkan kepada Sri Bintang Pamungkas cs. Padahal SBY adalah seorang militer berpangkat purnawirawan jenderal. Tentu dia tidak akan sulit untuk dirinya melakukan hal seperti itu, demi memberangus para pengkritik yang pada rezim saat ini hilang entah kemana.

Pernah dalam suatu acara, SBY mengakui bahwa dirinya saat masih berkuasa pernah digoda oleh bisikan orang-orang untuk melakukan tindakan represif terhadap para lawan politiknya, dengan menggunakan sumber daya dimiliki. Namanya juga Presiden, tentu dengan mudah melakukan hal tersebut. Tapi SBY tanpa ragu langsung menolak dan tetap berpegang teguh pada prinsipnya dalam menegakkan demokrasi.

Baca juga  Berpijak pada Solusi, Catatan Pertemuan SBY dan Jokowi

Jika SBY berkuping tipis, punya sifat pendendam dan tidak bersikap negarawan, saya yakin dia akan menghabisi orang-orang yang berbuat diluar norma dalam menghina SBY saat itu. Tapi kenyataannya tidak, orang-orang yang kritis tetap menghirup udara bebas dan melancarkan kritikannya.

Dalam menyikapi hasil Pemilu, SBY juga sangat matang dan dewasa. Lihat saja saat pemilihan umum legisltaif 2014 diumumkan, dimana Partai Demokrat yang diketuai SBY ternyata kalah dalam perolehan suara. SBY sama sekali tidak berusaha mencari-cari kesalahan. Setelah mengamati bahwa pelaksaan Pileg berjalan lancar, aman dan demokratis, SBY sebagai salah satu Ketua umum partai politik yang pertama kali memberi ucapan selamat kepada Paprol yang menjadi pemenang. Sikap SBY itu diharapkan bisa menjadi tradisi politik karena belum pernah dilakukan sebelumnya. Publik mencatat, masih banyak tokoh politik yang sulit sekali mengucapkan selamat kepada pihak yang menang.

SBY Bapak Demokrasi

Mungkin karena pertimbangan itu, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan PWI Jawa Timur menganugerahi SBY sebagai Bapak Demokrasi. Sosok yang telah berjasa mengantarkan Indonesia ke era demokrasi, dan menjaganya selama sekian tahun dengan anti tangan besi.

Dalam berbagai kesempatan SBY selalau mengingatkan kita semua, bahwa dia selalu ingin berbuat yang terbaik, namun SBY menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah manusia biasa. Ada kekurangan yang saya miliki, tetapi percayalah bahwa saya tulus ikhlas mengemban tugas memimpin negara ini menuju Indonesia yang lebih baik.

Kemampuan SBY juga diakui dunia internasioanal, bahkan Presiden AS, Barack Obama memberi penghargaan khusus kepada SBY. Demokrasi yang santun merupakan apresiasi konkrit atas budaya kita yang dikenal memiliki kesantunan. Karena itulah bangsa ini siap memasuki jajaran negara demokrasi dunia.

Baca juga  Sekjen DPR Bukan Sekretaris Pribadi Setnov

Dalam era SBY lah rakyat benar-benar merasakan pesta demokrasi. Suara rakyat betul-betul dihargai, tidak peduli itu kaya miskin, strata sosial sama hitunganya satu suara. Saat ada upaya untuk mengganti kembali dari pemilihan langsung ke pemilihan lewat DPRD, SBY mengeluarkan Perppu. Itu membuktikan dia konsisten menjaga agar rakyat harus sebagai penentu tertinggi dalam menentukan siapa pemimpin mereka.

Kita juga mengetahui, saat Pilpres 2014 SBY memutuskan mengambil sikap netral. Dia tidak mendukung salah satu dari dua kandidat yang bertarung, padahal SBY bisa saja mendukung salah satu kandidat dengan deal-deal tertentu. Tapi itu tidak dilakukannya, SBY tetap membiarkan semuanya berjalan dengan sebagaimana aturan yang ada.

Demokrasi yang santun merupakan apresiasi konkrit atas budaya kita yang dikenal memiliki kesantunan. Karena itulah bangsa ini siap memasuki jajaran negara demokrasi dunia.

Itu juga menjadi bukti kalau SBY tidak pendendam dan lebih mengutamakan Negara. Jika saja SBY dendam dengan PDI P sebagai partai paling frontal mengkritiknya, SBY bisa saja menggunakan pengaruhnya untuk mengalahkan pasangan Jokowi dan JK. Tapi itu tidak dilakukannya, SBY tetap berdiri ditengah, dan saat suasana makin memanas. SBY mengundang kedua kandidat untuk bertemu dan mendinginkan suhu politik.

Dan disaat akan purna tugas, SBY melakukan hal yang juga baru pertama kali terjadi di Indonesia. Masa transisi antar Presiden berjalan sangat baik, karena kita mengetahui selama ini hal tersebut belum pernah terjadi.

Ditengah kegaduhan yang tidak berhenti pada rezim saat ini, kita makin merindukan kesejukan yang dihadirkan SBY saat memimpin. Kita tidak mungkin memutar waktu kembali, tapi kita bisa belajar dari apa yang pernah diajarkan dan dipraktekkan SBY.

Selamat Ulang Tahun Bapak Demokrasi

oleh: Teddy Alfian (pemerhati sosial politik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here