Serangan Balik Atas Prabowo, Pantaskah?

0
Serangan Balik Atas Prabowo, Pantaskah?

Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo menjadi pertemuan dua tokoh negarawan sekaligus politisi yang dua kali berkompetisi untuk merebut kursi presiden republik Indonesia. Perebutan pertama pada pemilu 2014 yang dimenangkan oleh Jokowi. Dan pada pemilu 2019 tetap dimenangkan oleh Jokowi.

Pertemuan ini menjadi pengikat atas perbedaan yang diciptakan selama proses kampanye pemilu 2019. Dimana-mana perseteruan antara pendukung yang cendrung bringas dan tringas. Bila ditelisik ada pembelahan masyarakat yang kemudian berujung kepada saling serang dan banyaknya terputus tali silaturrahmi.

Moment pertemuan Jokowi-Prabowo dalam MRT dan dilanjutkan dengan makan bersama menjadi spesial. Hal ini menjadi simbol bahwa ada pekerjaan yang besar bagi segenap bangsa Indonesia membangun Indonesia kedepan.

MRT sebagai tempat yang mampu mempertemukan banyak orang dari berbagai kalangan dan tidak membedakan stara sosial dan ekonomi. Siapapun dapat menikmati fasilitas publik dengan aman dan nyaman. Hal ini menjadi pesan khusus kepada siapapun untuk tetap menjaga persatuan tanpa mesti merasa dibedakan.

Sedangkan jamuan makan bersama, menjadi pesan bahwa apapun persoalan terkait memperbaiki hubungan akan cair dalam jamuan makan bersama. Hal ini tidak terlepas dari akar budaya Indonesia. Jamuan makan dan makan bersama adalah bentuk silaturrahmi telah tersambung dan beberapa permasalahan telah menemukan titik solusi.

Solusi itu adalah tetap menjaga Persatuan Indonesia dengan melakukan upaya bersama melakukan rekonsiliasi politik. Dan masing-masing telah mendaraskan bahwa tidak ada lagi kubu 01, kubu 02 atau cebong dan kampret. Hal ini menjadi pengikat bahwa kita menjadi satu bangsa yang saling bersinergi.

Namun, tidak semua mampu untuk menerima pertemuan antara Jokowi dan Prabowo. Beberapa tokoh dan elemen yang selama ini mengklaim telah berjuang habis-habisan untuk mendukung untuk menjadikan Prabowo Presiden Republik Indonesia.

Baca juga  Pakar Hukum Sebut DPD RI Bakal Dikuasai Parpol

Pertama, Alumni PA 212, FPI GNPF-MUI dan kolega yang telah melingkari Prabowo dengan politik identitas dan membawa perseteruan hebat antara elemen ummat Islam. Lewat juru bicara menyatakan bahwa mereka menarik dukungan terhadap Prabowo dan BPN. Dan menyatakan bahwa mereka kembali ke khittah perjuangan.

Hal ini menjadi serangan balik pertama terhadap Prabowo. Melekatnya Alumni PA 212 dan kolega hanya menjadi bagian untuk mendapatkan kekuasaan lewat daya tekan massa. Ketika kemauan tidak didapatkan, maka dengan serta merta meninggalkan dan berbalik arah dengan ngedumel dan omelan kekecewaan.

Kedua, Amien Rais selaku Ketua Dewan Kehormatan PAN yang juga bagian dari dewan penasehat BPN Prabowo-Sandi. Amien Rais menyatakan bahwa Prabowo menyelonong dengan melakukan pertemuan dengan Jokowi. Sepak terjang Amien Rais yang melingkari Prabowo dan membawa wacana people power kemudian Gerakan Kedaulatan Rakyat setelah pemilu selesai.

Hal ini menjadi serangan balik kedua terhadap Prabowo. Sebab sebelumnya Prabowo telah menyatakan ingin melakukan pertemuan dengan Jokowi. Namun, hal ini diingkari oleh Amien Rais yang merasa dilangkahi oleh Prabowo.

Ketika, Relawan Prabowo-Sandi yang melakukan serangan balik terhadap Prabowo. Tercatat ada Jaringan Pemuda Penyelamat Konstituen Prabowo-Sandi yang menuntut pertanggungjawaban Prabowo atas tragedi 21-23 Mei yang lalu. Dalam rilis yang mereka buat, Prabowo mesti bertanggungjawab atas tewas dan hilangnya beberapa pemuda saat aksi massa berlangsung.

Selanjutnya, Panglima Relawan Prabowo-Sandi Provinsi Sulawesi Selatan, yang dikomandoi oleh Ryan Latief meluapkan kekecewaan atas pertemuan Prabowo-Jokowi dengan cara membakar spanduk Prabowo-Sandi di Makassar, Sulawesi Selatan.

Serangan balik terhadap Prabowo dari lingkaran pendukung adalah tindakan yang tidak semestinya. Bila menempatkan pemilu dalam berdemokrasi bagian kontribusi setiap anak bangsa membangun Indonesia. Sebab secara akar budaya Indonesia tidak mengenal tradisi perundungan dan melakukan serangan balik dengan berbagai tudingan tidak berlandas.

Baca juga  PAN: Luhut Jangan Baper Tanggapi Kritik Amien Rais

Semestinya para pendukung dan relawan Prabowo meneladani dengan melakukan pertemuan dan makan bersama.

Oleh: A. Pandu Wijaya Atmaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here