Serangan Fajar dan Kasus Selangor Sinyal Pemilu Disetting Curang?

0
Serangan Fajar dan Kasus Selangor Sinyal Pemilu Disetting Curang?

Indonesia berduka. Di penghujung Pemilu 2019, anggota DPR diciduk KPK. Bowo Sidik Pangarso, anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Golkar. Caleg di Dapil Jawa Tengah II itu diduga menerima suap terkait kerja sama penyewaan kapal pengangkutan pupuk antara PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik, anak perusahaan PT Pupuk Indonesia.

Apesnya—atau syukurnya?—Bowo mulai bernyanyi. Ada sekitar 8 miliar dalam 400 ribu amplop putih dalam 84 kardus besar itu untuk serangan fajar. Amplop itu bercap jempol yang mengingatkan publik pada ikon paslon Pilpres 2019 Jokowi-Maruf Amin. Apa karena urusan ini kubu 01 lantas beralih dari jempol ke “coblos yang putih”?

Kita belum paham, tapi yang jelas urusan ini lantas menyeret Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, yang juga kader Golkar. Bowo menyebut DPP Golkar, Nusron Wahid yang menyuruh. Bahkan Nusron disebut menyiapkan 600 ribu amplop untuk serangan fajar.

Betapa mengenaskan jika ini benar. Ada dua kengerian besar di sini. Pertama, OTT ini menjadi bukti kegagalan revolusi mental. Yup, Jika Nusron  yang kepala BNP2TKI dan “menteri kabinet Jokowi” yang kita tidak tahu namanya itu terseret, ini akan menambah panjang daftar orang-orang dekat Jokowi yang tersandung korupsi.

Sebelumnya ada Idrus Marham eks Menteri Sosial dan kader Golkar dan Romahurmuziy ketum PPP. Nama Menpora Imam Nahrawi yang juga kader PKB juga disebut terima uang suap dalam kasus KONI.

Logikanya, jika tidak bisa meluruskan lingkar dalamnya, bagaimana cara Jokowi menyebarluaskan revolusi mental kepada rakyat Indonesia? Apalagi jika kelak terbukti kalau ribuan amplop itu juga berkenaan dengan pemenangan Pilpres 2019, alias untuk mendudukan kembali Jokowi di kursi presiden.

Baca juga  Politik Seruduk Pertanda Belum Dewasa Berdemokrasi

Kedua, ihwal serangan fajar itu yang terang mendeligitimasi pemilu yang jujur dan adil. Apa yang dilakukan Bowo cs, dan orang yang disebutnya jika itu benar, adalah kejahatan besar di tengah-tengah krisis kepercayaan pada penyelenggara pemilu. Itu adalah racun demokrasi sesuatu yang mampus-mampus kita perangi, yang sialnya malah dilakukan oleh pejabat negara.

Krisis kepercayaan ini kian membesar pasca temuan puluhan ribu surat suara yang sudah dicoblos di Selangor Malaysia. Lagi-lagi ada semerbak bau paslon petahana berikut koalisinya. Ya, temuan menyebut kertas suara itu sudah dicoblos pada paslon Jokowi-Maruf dan Caleg DPR RI dari Partai Nasdem.

Apalagi diketahui Dubes Malaysia Rusdi Kirana adalah kader PKB, parpol pengusung Jokowi. Sementara David Kirana, caleg Partai Nasdem yang namanya ketangkap basah itu, adalah putera Rusdi Kirana.

Tentu saja dugaan pencoblosan kertas suara ini berkenaan dengan money politic yang menurut saya berasal dari duit korupsi atau berencana untuk kelak korupsi. Sebab, bagaimana cara mengembalikan amplop 8 miliar jika tidak rak buku yang diincar?

Jadi bisa dilihat intitusi yang terseret dua kasus ini, kan? Ada anggota DPR, Kepala BNPB dan menteri, hingga dubes. Ngeri! Dari sini saja kita bisa membaca kesan adanya jaringan di kubu pemerintah untuk mencurangi Pemilu. Tapi tentu saja kita berharap dugaan ini tidak terbukti.

Dibalik kecurangan ini boleh jadi kita akan bicara biaya politik yang mahal. Tapi sebelum itu ada kengerian lain yakni ancaman kandasnya pemilu yang jujur dan adil. Muaranya tentu usut-tuntas kasus ini hingga ke aktor utamanya. Juga mengetatkan pengawasan menjelang hari pencoblosan.

Selanjutnya, parpol-parpol juga perlu didorong untuk memastikan kader-kadernya tidak menuangkan racun demokrasi. Parpol-parpol perlu bekerja keras untuk memastikan kandidat memberdayakan modal politik yang mereka miliki plus tawaran program parpol sebagaimana yang dilakukan Demokrat dengan 14 Prioritas Demokrat untuk Rakyat.

Baca juga  KPK Tetapkan Setya Novanto Jadi TSK, Tiga Pentolan PDI P Menyusul?

Oleh: Rahmat Thayib, penggiat Gerakan Demokrasi Berkeadaban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here