Setelah AHY – Sandy, Kita Tunggu SBY – Prabowo Bertemu

0
1845
Setelah AHY – Sandy, Kita Tunggu SBY – Prabowo Bertemu
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) melakukan salam komando dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) seusai mengadakan pertemuan tertutup di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/7).

Minggu lalu, menjadi hari yang bersejarah bagi perjalanan politik di Indonesia. Dua generasi baru di pentas politik nasional menggelar pertemuan tertutup dan konon membahas terkait rencana untuk menghasilkan kesepakatan yang selama ini dinantikan publik dan pemerhati politik nasional.

Ya, Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Gerindra, Sandiaga Salahuddin Uno bertemu di kediaman Sandi dan hasilnya sebagaimana ramai diberitakan media massa, pertemuan itu akan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat ketua umum kedua partai dalam waktu dekat ini.

Sejatinya, pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat dan rekannya Prabowo Subianto yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra sudah lama direncanakan. Namun karena alasan kesibukan masing masing, undangan Prabowo kepada SBY urung dilaksanakan. Prabowo menyampaikan undangan resmi itu saat keduanya menggelar pertemuan di kediaman SBY di Puri Cikeas tahun lalu saat sama sama sepakat menolak penerapan pasal pemberlakuan angka minimal presidential threshold di UU Pemilu yang sudah disahkan DPR.

Namun yang menarik dari rencana pertemuan antara SBY dan Prabowo itu adalah kemana arah politik kedua partai dalam kontestasi politik akbar nasional tahun depan. Prabowo disebut akan kembali mencalonkan diri sebagai kandidat Calon Presiden dan diusung oleh partainya sendiri. Sementara SBY, Sang Veteran Pemilu dengan reputasi mentereng kini memimpin Partai Demokrat guna merebut kembali simpati publik di Pileg dan Pilpres 2019.

Banyak pihak berpendapat, jika SBY dan Prabowo berkoalisi, hal itu akan merepotkan koalisi Jokowi yang saat ini berkuasa. Namun hal itu tentu ditentukan dari kesediaan keduanya untuk bertarik ulur. SBY dan Prabowo tidak boleh kaku dalam menegakkan benang mereka.

Baca juga  Saling Ejek Trump-Kim hingga Berujung Pertemuan Bersejarah

Hal itu harus disadari oleh kader kedua partai politik. Jika tidak maka rencana itu akan buyar. Maka sirnalah semua jalan komunikasi yang selama ini dijalani.

SBY dan Prabowo Jadi “King Maker”

Dibalik itu, koalisi menjelang Pilpres memang masih belum padu meski semua partai semakin mengintensifkan pertemuan demi pertemuan. Koalisi Jokowi misalnya masih belum menentukan siapa yang akan menjadi Cawapres.

Dalam koalisi gemuk pemerintah itu, ada PDI-P, Partai Golkar, NasDem, Hanura, PPP dan PKB. Namun ganjalan akan muncul dalam penentuan siapa yang akan menjadi pendamping Jokowi. Kita tahu, Muhaimin Iskandar pernah mengeluarkan pernyataan bahwa partainya akan cek out dari koalisi Jokowi jika tidak memberikan posisi Cawapres kepadanya. Namun disisi lain, nama Airlangga Hartarto juga menjadi nama baru yang patut diperhitungkan. Airlangga tentu merasa berhak sebab setelah PDI-P, suara partai beringin itu menjadi yang tertinggi kedua.

Disisi lain, dalam koalisi Prabowo, Partai PKS juga sudah mengajukan sembilan nama untuk dipilih sebagai Cawapresnya. Kesembilan nama itu berasal dari kader internal PKS dan saat ini menjabat di beberapa posisi publik mulai dari Wakil Ketua MPR, Gubernur dan Anggota DPR.

Namun, informasi yang beredar di internal PKS dan Gerindra kesembilan nama itu tidak bisa memberi kontribusi positif bagi peningkatan elektabilitas Prabowo. Karena itu Prabowo disebut tengah mencari nama lain diluar koalisinya terdahulu (PAN dan PKS) untuk berpasangan dengan dirinya sebagai Capres/Cawapres.

Baca juga  Mengukur dan Menakar Kehendak Tuhan ala Amien

Disisi lain, elektabilitas Prabowo konon juga tidak bergerak progresif. Elektabilitas Prabowo disebut sebut beberapa lembaga yang aktif melakukan jajak pendapat selalu berada dibawah petahana Joko Widodo.

Karena itu, disaat kebuntuan itu, ada suara dari berbagai kalangan diantara kedua partai (Demokrat dan Gerindra) untuk segera bersatu dan menjalin kerjasama politik. Prabowo disarankan untuk mau menerima ajakan koalisinya guna menjadi “King Maker”.

Sejauh ini, desas desus yang beredar Prabowo memang masih belum memutuskan untuk mencalonkan diri kembali. Ia hanya memperoleh mandat dari partainya untuk kembali menjadi Capres dan berhadapan dengan Jokowi. Namun jika peluang untuk menang masih jauh dari harapan, bukan tidak mungkin Prabowo akan menerima ajakan partai lain untuk mendorong capres akternatif selain dirinya guna berhadapan dengan Jokowi.

Disinilah seninya, tindak lanjut dari pertemuan AHY dan Sandiaga pekan lalu menjadi titik baru bagi perubahan peta politik. Kita tunggu kelihaian berkomunikasi kedua tokoh dan juga pimpinan partai lain. Aksi akribat politik SBY dan Prabowo menjadi aksi yang dinantikan dan juga disebut sebagai bukti kenegawaranan keduanya demi Indonesia yang jauh lebih baik.

Oleh Burhanuddin Khusairi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here