Social Engineering Dalam Memahami Framing Asia Sentinel

0
Social Engineering Dalam Memahami Framing Asia Sentinel

Social Engineering atau disebut juga dengan rekayasa sosial merupakan serangkain tindakan sistematis untuk melakukan perubahan sosial. Dimulai dari membaca dan mehami realitas sosial sampai dengan merubah perilaku sosial. Dalam artian sederhana, rekayasa sosial merupakan seni memanipulasi gerakan sosial.

Baru-baru ini media tanah air tengah bersemangat memberitakan tulisan John Berthelsen di Asia Sentinel yang mengulas kasus Century. John Berthelsen memakai analisis forensic dari negara Mauritius untuk mendeskreditkan figure SBY yang saat ini berkoalsi dengan Prabowo. Sayangnya, media tanah air tidak terlebih dahulu mengkroscek keredibelitas media tersebut.

Alasan sederhana media tanah air memeberitakan hal tersebut ada dua alasan. Pertama, berita dengan bahasa asing akan dianggap luar biasa oleh pembaca Indonesia. Padahal Asia Semintel jika ditelisik ke websitenya, rata-rata pembaca perkontennya hanya berkisar 150-300 pembaca. Jadi, jika media besar di tanah air mengintisari berita dari Asia Semintel adalah kekeliruan yang fatal.

Alasan kedua adalah karena seluruh media di tanah air sudah dikuasai Jokowi. Buktinya pemilik media yang sekaligus pimpinan partai merapat ke Jokowi. Mulai dari Surya Paloh, ARB, Harry Tanoe, dan terakhir Erick Thohir. Bahkan, kampanye Jokowi masuk ke dalam ruang gelap bioskop. Edan.

Baca juga  SBY dan Demokrat, Kedua Nama Besar Tak Dilupakan Rakyat

Dalam rekayasa sosial terkait isu Century yang mengaitkan SBY tersebut, setidaknya ada dua target yang diharapkan. Target tersebut berupa jangka pendek maupun jangka panjang. Pemilihan SBY sebagai target karena tokoh tersebut dianggap sosok yang cukup populer belakangan ini.

Target jangka pendek dari rekaya sosial kali ini adalah untuk mengaburkan pemberitaan aliran suap ke kantong PDIP dan Golkar. Dalam seminggu belakangan ini, isu suap diberbagai platform media membuat partai koalisi Jokowi jengah. Jika opini tersebut terus bergulir, tentu sangat berbahaya bagi elektabilitas Jokowi.

Mengetahui hal tersebut, maka harus ada tumbal besar yang dijadikan sebagai objek pengalihan isu. Karena rekayasa sosial yang diharapkan sebelumnya dari foto bareng Jokowi dengan Suju tidak terlalu berhasil mengalihkan isu di tanah air. Gelombang aksi mahasiswa yang meminta Jokowi turun tidak terbendung dengan goyang dayung serta hastag #JokowiDaebak.

Sementara itu, target jangka panjangnya adalah untuk mendegradasi SBY secara pribadi dan Partai Demokrat (PD) secara umum. Strategi SBY meramu Demokrat 2 kaki (1 di Pileg, 1 di Pilpres) membuat kekhawatiran bagi partai-partai pengusung Jokowi. Dengan strategi tersebut diyakini PD akan mendulang hasil maksimal di Pileg 2019.

Baca juga  Rapor Merah Jokowi dan Impian Penuntasan Kasus HAM

Terlepas dari upaya pengalihan isu ataupun rekayasa sosial yang dilakukan, saat ini yang penting dilakukan adalah mengawal KPK mengusut tuntas dugaan pidana korporasi yang dilakukan PDIP maupun Golkar. KPK sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi tidak boleh tunduk pada penguasa.

Hukum harus adil. Tidak boleh tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Mari rakyat Indonesia, kawal dan dorong KPK membuka brankas-brankas suap di tubuh PDIP dan Golkar. Masyarakat tidak akan rugi jika PDIP dan Golkar mesti dibubarkan karena tersangkut kasus pidana korporasi.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here