Spanduk “Jalan Tol Pak Jokowi”, Mau Bikin Jokowi Sesadis Kaisar Prancis?

0
1050
Spanduk “Tol Milik Jokowi”, Direktur CBA: Miris dan Kesesatan Klaim

Spanduk “Jalan Tol Pak Jokowi” yang dipasang sepanjang jalan tol, dan dilihat oleh ribuan pemudik yang bergerak meninggalkan ibukota, mengingatkan saya pada perkataan Kaisar Perancis Louis XIV yang legendaris itu. Louis XIV juga punya kalimat yang secara substansi rada-rada mirip: “L’État c’est moi” (“negara adalah saya”).

Dengan klaim ini, Louis XIV menjadi kaisar Prancis yang memerintah paling lama, 72 tahun masa kekuasaan. Tapi dia memerintah dengan semaunya, dengan sewenang-wenang karena berbasis pada klaim tadi. Akibat gaya kepemimpinan tangan besi plus ketidakcakapannya dalam memerintah, Prancis pun terpuruk. Pengangguran merajalela, panen gagal, harga roti dan pangan selangit. Sementara oposisi digebuk mampus.

Akibatnya, Kaisar yang dahulu begitu dicintai itu berbalik jadi sosok yang paling dibenci di seantero Prancis kala itu. Dan akhirnya, rakyat yang marah akibat kesewenang-wenangan, mengamuk, mencuatkan revolusi yang berujung pada kejatuhan Louis XIV. Dan pada satu subuh, dia dihukum pancung.

Saya tak bermaksud membanding-bandingkan Jokowi dengan Louis XIV, tetapi saya ingin mengingatkan betapa bahayanya klaim yang dilakukan penguasa. Jika tak hati-hati, seorang penguasa yang sudah merasa berbuat yang terbaik—meski rakyat menilainya belum yang terbaik—bisa jatuh frustasi dan akhirnya ambil jalan pintas dengan menggunakan tangan besi.

Baca juga  Saling Ejek Trump-Kim hingga Berujung Pertemuan Bersejarah

Apalagi, jika kita membaca UUD 1945 hingga peraturan perundang-undangan dibawahnya, tidak ada satupun frasa “klaim” dalam laku tanggungjawab seorang Presiden. Seorang Presiden memang punya hak dan wewenang, tapi dia tidak punya “klaim”. Karena apapun yang dia lakukan sejatinya adalah perwujudan dari kewajibannya sebagai presiden.

Karena itulah, sepanjang sejarah kita tak pernah mengenal ada Presiden yang mengklaim hasil-hasil pembangunan sebagai kepunyaannya. Bahwa pembangunan itu dilaksanakan di era pemerintahan mereka memang benar, tetapi semua itu tidak bisa diklaim sebagai kepemilikan. Soekarno tak pernah mengklaim memiliki monas, Soeharto tak pernah mengklaim punya jalan tol, jembatan atau pelabuhan. Demikian pula Habibie, Gus Dur, Megawati atau SBY. Coba bayangkan bila SBY mengklaim 545 proyek MP3EI sebesar Rp1.299,1 triliun sebagai miliknya? Gawat jadinya!

Karena itu apa yang dilakukan pendukung Jokowi dengan membentangkan spanduk “Jalan Tol Pak Jokowi”, bukan hanya sesat, tapi juga bahaya. Apa yang mereka lakukan bukan hanya mengobrak-abrik kompetisi politik secara berkualitas, melainkan meluluh-lantakan subtansi keberadaan seorang Presiden.

Mereka seolah-olah menelikung kewajiban Presiden kepada rakyatnya. Lewat spanduk “Jalan Tol Pak Jokowi” itu, para relawan Jokowi sejatinya telah falsafah daulat rakyat, bukan daulat raja. Lewat spanduk “Jalan Tol Pak Jokowi” itu, rakyat menjadi subordinat dari Presiden. Padahal konstitusi kita jelas menyebut bahwa kedaulatan itu ditangan rakyat. Presiden tak lebih dari orang yang dititipi.

Baca juga  Terbukti Lagi Curang dalam Pilkada, Aparat Hukum Sudah Jadi Budak Politik Penguasa?

Namun, yang paling parah, para relawan Jokowi ini seakan-akan mendorong Jokowi untuk bersikap pongah, untuk mengklaim hasil-hasil pembangunan sebagai kepunyaannya, untuk menuju kehancuran ala Louis XIV. Hentikanlah! Pola-pola kampanye semacam ini terang tidak sesuai dengan demokrasi Pancasila yang kita anut!

Konon ada keyakinan kuat dalam dunia politik. Kejatuhan seorang kandidat bukan hanya berasal dari kecerobohan kandidat, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Citra buruk orang-orang di sekitar kandidat dapat berimbas pada citra negative seorang kandidat. Agaknya fenomena ini yang perlu diwaspadai oleh Jokowi. Semakin lama, semakin kita saksikan relawan-relawan Jokowi yang panik, kerap blunder, kerap memicu kontroversi negatif.

Saya pikir sudah saatnya lingkar utama Jokowi untuk menertibkan para relawan ini. Jangan blunder! Jangan bikin kacau! Kecuali kalau tujuan mereka cuma buat ambil muka tapi bikin hancur skenario pemenangan.

Oleh: Arief Rahman Hakim, warganet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here