Spesialis Lempar Batu Sembunyi Tangan, Antasari Kembali Muncul untuk Fitnah SBY

0
617
Antasari Azhar menghadiri acara Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jumat (27/1). (ant)

“Apa belum puas terus memfitnah & hancurkan nama baik saya sejak November 2016, agar elektabilitas Agus hancur & kalah,” kata SBY menanggapi fitnah Antasari Azhar yang menuding SBY sebagai dalang kriminalisasi terhadap dirinya.

Antasari Azhar merupakan mantan ketua KPK yang berakhir di penjara. Ia didakwa melakukan pembunuhan terhadap pengusaha Nasrudin Zulkarnaen, direktur Putra Rajawali Banjaran yang ditembak seusai bermain golf di Padang Golf Modernland, Kota Tangerang. Dengan kasus ini, Antasari divonis 18 tahun penjara. Hukuman itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa yaitu hukuman mati.

Antasari mendapatkan remisi pada tahun 2010. Remisi ini memangkas hukuman yang dijalaninya sebanyak empat tahun enam bulan. Pada tanggal 16 November 2016, dirinya mendapatkan pembebasan bersyarat. Pembebasan bersyarat hanya bisa diberikan apabila seorang terpidana sudah menjalani hukuman sebanyak dua pertiga dari vonisnya. Saat pembebasan bersyarat itu Antasari sempat menyatakan tidak akan membongkar ‘rekayasa’ kasus pembunuhan yang membuatnya divonis penjara 18 tahun.

Pada 25 Januari 2017, Antasari mendapat grasi dari Presiden Jokowi. Dengan grasi ini, Antasari tidak perlu lagi menjalani sisa masa pembebasan bersyaratnya, yang harus dijalani selama enam tahun. Pada saat yang bertepatan dengan Pilgub DKI inilah Antasari melancarkan fitnah kejinya kepada Susilo Bambang Yudhoyono.

Baca juga  Dendam Anas Urbaningrum, Setnov Justice Collaborator dan Skenario Fitnah SBY

Wawancara eksklusif pun banyak dilakukan media kepada Antasari. Dalam banyak kesempatan, Antasari selalu memfitnah SBY sebagai dalang kriminalisasi atas dirinya. Padahal sebagai orang yang mengerti hukum, seharusnya Antasari lebih mengedepankan bukti dari pada opini.

Maka wajar, pada saat itu publik meyakini Antasari merupakan alat politik partai tertentu untuk menghancurkan SBY dan menggerus popularitas dan elektabilitas AHY yang pada saat itu mengalami trend peningkatan yang positif di Pilgub DKI. Atas fitnah keji itu, akhirnya SBY menempuh jalur hukum untuk mencari keadilan agar Antasari dapat membuktikan fitnahnya tersebut dibuktikan di hadapan persidangan.

Namun apa dilacur, sebagaimana asumsi orang kebanyakan, pihak yang berwajib tidak responsif menanggapi laporan mantan presiden RI keenam tersebut. Fitnah Antasari memang dikesankan untuk menyerang SBY dan keluarga, agar AHY jatuh dan menjadi Gubernur di Jakarta.

Jika seandainya Antasari memang tidak sekedar memfitnah, harusnya tudingan Antasari tersebut dapat ia teruskan kepihak kepolisian. Namun, Antasari memilih “lempar batu sembunyi tangan”. Setelah AHY kalah, Antasari pun menghilang dari peredaran. Tidak ada kebenaran yang terungkap melainkan hanya meninggalkan sisa-sisa fitnah.

Setelah sekian lama Antasari tidak muncul dengan fitnahnya terhadap SBY, kali ini dikabarkan Antasari akan berkongsi dengan Boyaimin pengacara Firman Wijaya yang dilaporkan oleh SBY. SBY sebelumnya melaporkan Firman Wijaya ke Bareskrim atas fitnah di luar persidangan yang mengatakan partai pemenang pemilu sebelumnya (Partai Demokrat dan SBY) merupakan aktor utama skandal proyek KTP-el.

Baca juga  Pagi Ini KPU Gelar Sidang Penetapan Parpol Peserta Pemilu

Apa jadinya tukang fitnah berkaloborasi dengan tukang fitnah lainnya. Ini tentu merupakan wajah negatif hukum yang harus kita cermati bersama. Sekian tahun kita membangun demokrasi yang berkeadaban, tetiba hari ini demokrasi kita dirusak oleh segelintir tukang fitnah yang terkesan dibiarkan oleh hukum untuk berkeliaran.

Jika Antasari ingin berkolaborasi dengan Firman Wijaya, sedapat mungkin pihak kepolisian memproses aduan SBY terhadap pencemaran nama baik oleh Antasari diselesaikan terlebih dahulu. Jangan biarkan orang yang telah dilaporkan memfitnah bisa kembali memfitnah hanya dibekengi kepentingan politik tertentu. Jangan biarkan bangsa ini terbiasa dengan “lempar batu sembunyi tangan”. Kita harus mendidik bangsa ini dengan rasa tanggung jawab dan etika yang tinggi seerti yang telah diturunkan para leluhur kita.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here