Sudah Saatnya Jokowi Bilang ke Megawati: PDIP, I’m Sorry Goodbye

0
2455
Sudah Saatnya Jokowi Bilang ke Megawati: PDIP, I’m Sorry Goodby

Judul tulisan ini bukan buat lucu-lucuan. Saya mengeja saat ini adalah the final moment bagi Jokowi untuk bertegas-tegas di hadapan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri: “Mbak Mega, I’m sorry goodbye!” Tak perlu lagi pikir panjang. Sebab salah memanfaatkan momen bisa bikin Jokowi pusing di hari depan.

Pertanyaannya, apa iya Jokowi berani melawan Megawati Soekarnoputri. Bukannya presiden kita ini hobi cium tangan Megawati dalam setiap iven PDIP? Saya yakin: berani! Ada sejumlah alasan yang melatarbelakangi pemikiran ini.

Pertama, PDIP tak lagi sesetrategis pemilu 2014. Hasil Pilkada serentak 2018 yang menunjukan jebloknya perolehan suara PDIP jadi satu sinyal kuat—kocaknya, jago-jago Jokowi yang berjibaku dengan jago-jago PDIP malah menang di banyak Pilgub.

Penolakan rakyat terhadap PDIP juga semakin menguat. Terutama pasca ketimpangan atau sikap “munafik” PDIP saat berperan sebagai oposisi dan kini partai pendukung pemerintah. Pun, penangkapan banyak kepala daerah yang notabene kader PDIP oleh KPK. Termasuk kesan PDIP “campur tangan” dalam penegakan hukum untuk menyelamatkan kader-kader utamanya, seperti Puan Maharani, Olly Dondokambey dan Yasonna Laoly yang terduga kuat kecipratan duit megakorupsi KTP-el. Terlebih, sebagai partai utama mengusung hak angket KPK, seluruh rakyat Indonesia sudah melabeli PDIP sebagai parpol yang dipertanyakan konsistensinya dalam pemberantasan korupsi di tanah air.

Sehingga sulit rasanya menisbatkan PDIP sebagai bemper utama, the ruling party, parpol yang akan menjaga kebijakan Jokowi —jika Jokowi menang Pilpres 2019—di DPR pada periode 2019-2024. Malah besar kemungkinan suara PDIP akan anjlok di Pileg 2019. Pasalnya, rakyat telah melihat PDIP bukan lagi partai wong cilik sejak berkuasa.

Baca juga  Pengamat: Pertemuan AHY dan Puan Buka Peluang Demokrat dan PDI-P Berkoalisi

Kedua, PDIP hobi mendikte Jokowi. Kita bisa membaca betapa mampus-mampusannya PDIP berupaya mengusur Rini Soemarno dari kursi Meneg BUMN, mengusung Budi Gunawan sebagai Kapolri, atau label Jokowi sebagai “petugas partai”, dan sederet pelecehan-pelecehan terhadap Jokowi lainnya. Benih-benih pelecehan sebenarnya sudah tersemai jauh sebelum Jokowi menjabat Presiden ke-7 RI. Kita tentu masih ingat kabar Puan Marani mengusir Jokowi dari rumah Megawati—peristiwa ini pernah dimuat di The Jakarta Post itu terjadi sebelum Pilpres 2014.

Pucaknya tentu saja rencana Megawati untuk menjadikan Budi Gunawan sebagai cawapres Jokowi di Pilpres 2019. Padahal, dari sisi popularitas maupun elektabilitas Budi Gunawan jauh tertinggal dengan kandidat-kandidat cawapres lainnya. Belum lagi status Budi Gunawan sebagai mantan perwira Polri yang semerbak dengan kasus-kasus “busuk”, mulai dari perkara korupsi—yang konon menjegal Budi Gunawan jadi menteri dan kapolri—hingga isu mendorong Polri dan BIN terlibat politik praktis; satu hal yang mengobrak-abrik gerakan reformasi di tubuh Polri. Sehingga mendorong Budi Gunawan sebagai cawapres Jokowi jelas rencana yang irasional dan melecehkan pembangunan pemerintahan yang baik (good governance).

Ketiga, Jokowi adalah politikus yang tak “pakai hati”. Sebagai seorang politisi, Jokowi masih berhitung-hitung. Dan jika hitungannya pas, Jokowi akan menepikan suara hatinya. Kita bisa mengeja Pilpres 2014 silam. Kendati “dibesarkan” oleh Prabowo Subianto yang mendudukkannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, toh Jokowi menelikung Ketua Umum Partai Gerindra ini pula. Dia tak ragu-ragu maju sebagai kompetitor Prabowo di Pilpres 2019.

Baca juga  PDIP Awasi Manuver JK Menjelang Pendaftaran Capres

Jadi kalau sekarang Jokowi terkesan hobi mencium tangan Megawati di acara-acara resmi –lambang seorang ‘petugas partai’—anggap saja ini sebagai laku tak “pakai hati” tadi. Jokowi menepikan kejengkelannya pada segala laku pelecehan yang diterimanya dari PDIP, sembari menunggu-nunggu momen untuk melakukan manuver ciamik.

Dan sekarang momen itu sudah di depan mata. Dukungan Partai Golkar, Nasdem, PPP dan Hanura; sudah lebih dari cukup untuk membeli tiket Pilpres 2019.  Tak ada lagi urgensi PDIP di sini. Dukungan basis? Lha, Jokowi kan punya relawan di luar PDIP. Bahkan pada Pilkada Serentak 2018 lalu saja, jagoan Jokowi menang di Jabar, Jatim, Lampung, Sulsel dan Kalbar.

Artinya, posisi PDIP menjelang Pilpres 2019 ini sudah tak lagi begitu strategis. Yang ada justru dikte rencana Budi Gunawan cawapres yang menguat. Kalau sudah begini, agaknya sudah saatnya  Jokowi bilang: Mbak Mega, I’m Sorry Goodbye.

Oleh: Yohannes Sembiring, analis media, mukim di Medan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here