Sumpah Mubahalah Buni Yani jelang Sidang Pembacaan Vonis

0
132
Terdakwa kasus dugaan pelanggaran UU ITE Buni Yani (tengah) berjalan menuju ruang sidang untuk menjalani sidang lanjutan di Gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/10). (ant)

Buni Yani yang terjerat kasus dugaan pelanggaran UU ITE, kembali melontarkan sumpah jelang pembacaan vonis pada sidang yang digelar di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip, Jalan Seram, Kota Bandung, Selasa (14/11/2017) siang.

Dalam pidatonya, Buni Yani bersumpah bahwa ia tak pernah memotong atau mengedit video pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu.

“Dalam persidangan yang mulia ini saya berulang kali menyampaikan mubahalah saya, sumpah paling tinggi dalam agama Islam. Saya tidak pernah memotong video,” ucap Buni Yani.

Dengan nada tegas, Buni Yani berkata, “Dan, apabila hari ini saya diputus bahwa saya dinyatakan bersalah dalam perkara ini, orang yang menuduh dan orang yang memutuskan perkara ini karena telah menuduh saya memotong video mudah-mudahan orang tersebut kelak akan dilaknat oleh Allah.”

Seusai memberikan pernyataan, Ketua Majelis Hakim M Saptono kembali melanjutkan sidang.

Buni Yani, hadir dalam sidang dengan pengawalan ketat. Ia tiba di lokasi persidangan sekitar pukul 08.58. Tak berselang lama, Buni Yani masuk ke ruang sidang yang sudah disesaki awak media, petugas pengamanan, dan para pendukungnya.

Baca juga  Kata Prof. Mahfud MD, Jika Mangkir Lagi, KPK Bisa Jemput Paksa Setnov

Tiba di ruang sidang, Buni Yani memekikkan kalimat takbir. ” Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,” teriak Buni Yani disambut kalimat serupa oleh pendukungnya.

Sidang dibuka sekitar pukul 09.10. Ketua Majelis Hakim M Saptono mengetuk palu sebagai tanda persidangan dimulai. Buni Yani yang hadir dengan mengenakan baju putih dan celana krem duduk di kursi terdakwa.

Pada dakwaan pertama Buni Yani didakwa melakukan penghapusan kata ‘pakai’ dalam pidato Ahok yang videonya diunggah Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfomas) Pemprov DKI Jakarta. Buni didakwa melanggar Pasal 32 ayat (1) juncto Pasal 48 ayat (1) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sedangkan pada dakwaan kedua, Buni Yani didakwa menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian terhadap masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal itu disebut jaksa Andi berasal dari postingan Buni Yani di Facebook.

Baca juga  Robert Mugabe Akhirnya Dikudeta

Perbuatan Buni Yani itu didakwa jaksa dengan dakwaan kedua yaitu melanggar Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45 ayat (2) Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 45A ayat (2) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Atas hal tersebut, jaksa menuntut Buni Yani dengan hukuman penjara selama dua tahun.

Buni Yani melalui pengacaranya berharap agar majelis hakim memutus perkara kliennya dengan adil. Pengacara meminta majelis hakim memvonis bebas kliennya.

“Ada pun terhadap vonis hakim kelak kami memohon agar terdakwa Buni Yani, klien kami dapat dibebaskan (vrijspraak) atau setidaknya dilepas (ontslag van alle rechtsvervolging),” kata pengacara Buni Yani, Aldwin Rahadian dalam keterangan tertulisnya.

(kom/raf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here