Teroboson Penguasa Yang Menyengsarakan Wong Cilik?

0
2817

Kebijakan pemerintah menjual aset-aset untuk membangun infrastruktur baru mendapat dukungan dari partai-partai pendukungnya, terutama PDI Perjuangan. Partai yang melabeli diri sebagai partai wong cilik tersebut mengatakan kebijakan jual aset itu merupakan terobosan baru.

Pentolan PDI P, Eva K Sundari dengan bangga mengatakan jual aset itu terobosan demi mengejar target penyediaan infrastruktur. Dari kata-kata itu dapat diartikan PDI P setuju demi mencapai target, kehilangan aset yang merupakan hak milik rakyat boleh dilakukan.

Kita ambil contoh tol Bekasi-Cawang-Kampumg Melayu (Becakayu). Jalan yang dibangun oleh BUMN tersebut akan dijual setelah rampung 100 persen pembangunannya. Jalan tol tersebut dibangun dengan menelan biaya Rp7,2 triliun, panjangnya 21 km. Artinya harga per meter Rp. 350 juta, dan itu merupakan salah satu jalan termahal biaya pembangunannya.

Biaya yang dipakai untuk membangun jalan itu berasal dari BUMN. Dan kita paham kalau BUMN merupakan milik rakyat Indonesia, bukan milik sebagian orang. Untuk modal, BUMN mendapatkan tambahan dari APBN, yang artinya merupakan duit rakyat Indonesia.

Baca juga  Menertawai SN, Menertawakan Kelucuan Kita

Dengan menjual aset kepada swasta, maka kita akan kehilangan hak kepemilikan. Dan pihak swasta dapat membuat kebijakan sendiri terkait dengan aset yang telah beli. Misalnya mereka menaikkan tarif tol demi mengejar modal yang telah dikeluarkan. Jika itu terjadi, maka biaya yang harus dibebankan kepada masyarakat makin tinggi.

Bayangkan kalau banyak aset yang dijual pemerintah nantinya, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pokok. Bisa jadi swasta akan mengeluarkan kebijakan yang seenak hati dan kita hanya dapat merapati dengan penyesalan.

Kita masih ingat bagaimana rakyat Indonesia mengutuk kebijakan pemerintah saat mengetahui berapa Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia) mendapatkan keuntungan setelah membeli Indosat. Mereka mengeluarkan dana hanya Rp5,62 triliun saat membeli dari pemerintah pada era Megawati dan mereka menjual Rp16,740 triliun. Hanya dalam kurun beberapa tahun, perusahaan Singapura tersebut dapat meraup keuntungan berlipat-lipat. Dan kita sebagai pemilik mutlak Indosat menyesal dua kali lipat, pertama karena menjual murah dan kedua kehilangan aset.

Baca juga  Sikapi Status Novanto, MKD Gelar Sidang Hari Ini

Seharusnya pemerintah belajar dari pengalaman tersebut, jangan sampai hanya mengejar target akan melakukan semuanya. Tentu kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan “Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali.” Pepatah ini adalah suatu ungkapan kebodohan seseorang yang tidak mau mengambil hikmah dari kesalahan yang sama.

PDI P juga harus sadar diri, dengan melabeli diri sebagai partai wong cilik. Mereka harus sensitif dengan keadaan masyarakat dan aspirasi yang disampaikan. Jangan mentang-mentang menjadi partai penguasa, mereka mulai melupakan wong cilik. Ingat bagaimana kader mereka ada yang menangis saat BBM mau dinaikkan, tapi itu dulu. Sekarang mereka malah bungkam saat pemerintah menaikkan BBM saat harga minyak dunia anjlok.

Jangan bohongi rakyat dengan label wong cilik hanya untuk mengejar kekuasaan. Setelah menang, wong cilik ditinggalkan begitu saja.

Teroboson Penguasa Yang Menyengsarakan Wong Cilik?

oleh – Triandi Aprianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here