TGB Dukung Jokowi; Skenario Bohongi Rakyat, Agen Jokowi atau Kena Ancam Kriminalisasi?

0
1981
Dukungan Gerbong Kosong Ala TGB ke Jokowi
Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, dan Presiden Jokowi. (suratkabar.id)

Kalau ada yang bilang politik itu penuh tipu daya, maka pernyataan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) mungkin bisa jadi contoh. Betapa tidak, TGB mendadak menyanjung Presiden Jokowi. Bahkan dia menyebut Jokowi layak untuk dipilih kembali pada Pilpres 2019. Manuver TGB ini pastilah membikin kalangan oposisi kecewa. “Sakitnya tuh di sini!” kalau meminjam judul lagu Cita Citata.

TGB selama ini terbilang dekat dengan kalangan oposisi. TGB diketahui ikut aksi 411, dan juga mendukung aksi 212. Manuver ini membuat masyarakat menempatkan TGB masuk kelompok oposisi. Bisa dilihat dari berbagai status dan komentar masyarakat di sejumlah medsos yang menganggap TGB adalah bagian dari tokoh yang tak ingin pemerintahan Jokowi sampai dua periode.

Tak heran bila TGB disambut gegap-gempita di basis alumnus 411 dan 212. Mayoritas roadshow TGB keliling Indoensia tak lepas dari dukungan kalangan ini. Meski popularitas dan elektabilitas TGB belum moncer, TGB sudah digadang-gadang jadi sosok representasi umat Islam untuk “menumbangkan” Jokowi pada Pilpres 2019. Bahkan ulama sekaliber Uztaz Abdul Somad bertegas-tegas menaruh harapan terhadap TGB. Puncaknya, TGB didaulat sebagai capres versi Presidium Alumni 212.

Lantas, kok bisa-bisanya TGB berbalik arah?

Ada suara-suara yang menyalahkan publik. Bahwa TGB yang antiJokowi semata-mata hanya persepsi masyarakat. Toh TGB belum pernah menyebut pemerintahan Jokowi cukup disini, bahwa 2019 mesti ganti presiden.

Argumen ini justru menunjukkan betapa “licik” seorang TGB. Jika sedari awal dia mendukung Jokowi, mengapa dia biarkan salah persepsi itu kian berlarut-larut. Apa kedekatan TGB dengan massa anti-Jokowi cuma buat mendongkak popularitas dan elektabilitas? Targetnya, kelak TGB dipinang jadi cawapres-nya Jokowi? Atau minimal jadi menteri Jokowi dalam kabinet mendatang?

Baca juga  TGB Dukung Jokowi, PA 212 Tentukan Capres 27 Juli

Jika skenario ini yang dipakai, TGB nyata-nyata telah melakukan kebohongan publik. Dia seorang politikus oportunis. Dan tragisnya, skenario dua kaki ini dimainkan di atas kepercayaan orang banyak, kepercayaan para pendukungnya yang anti Jokowi itu.

Jika TGB jantan, jauh-jauh hari semestinya dia bertegas-tegas. Dalam roadshownya, TGB akan menyebut bahwa dia bukan kalangan yang ingin 2019 mesti ganti presiden. Dengan ketegasan ini, publik tak akan merasa dibohongi. Dengan kejujuran ini, Rakornas Persaudaraan Alumni 212 tak akan kecolongan. Nyatanya, TGB malah membiarkan dan terkesan cukup “menikmati” gegap gempita massa antiJokowi mengelu-elukan dirinya.

Tetapi ada pula analisis kedua. Jangan-jangan, TGB ini adalah “agen” Jokowi. Sejak jauh-jauh hari TGB sudah bersepakat dengan Jokowi. Pembiaran TGB adalah satu upaya untuk memecah belah massa antiJokowi. Saat alumni 411 atau 212 sudah kepincut TGB, maka dia akan beralih. Dengan cara ini, alumni 411 atau 212 yang sudah jadi pendukung diehard TGB diharapkan akan kebingungan. Bahkan syukur-syukur kelak bisa digiring untuk mendukung Jokowi.

Terakhir, adalah skenario ketiga. TGB sudah terjerat skenario licik penguasa. Kita bisa mengeja sebab dukungan TGB ini bersamaan dengan penyelidikan KPK terhadap dugaan penyimpangan divestasi saham perusahaan pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara. Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin sudah dimintai keterangan oleh KPK. Dan konon, tinggal selangkah lagi dugaan korupsi ini akan menyeret TGB. Tak heran bila semerbak keyakinan bahwa dukungan TGB kepada Jokowi tak lebih dari manuver cari selamat.

Baca juga  Gerindra Optimis Demokrat Bergabung

Terlebih, dugaan penggunaan aparat hukum untuk melanggengkan kekuasaan sudah menjadi isu keras di era  Jokowi ini. SBY pernah mengingatkan perihal netralitas polisi, BIN dan TNI dalam politik praktis.

Kita tentu masih ingat dugaan kasus Lukas Enembe, kader Partai Demokrat, yang dipaksa memenangkan Jokowi dan PDIP di Papua. Atau kisah Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo yang mendadak mendukung Jokowi, pasca ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan SMS ancaman ke jaksa Yulianto. Atau penyataan Ridwan Kamil yang memilih diusung Nasdem di Pilgub Jabar sebab NasDem  punya media dan Kejaksaan?

Bagaimana dengan KPK? Dua Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin dan Amien Rais bahkan menilai KPK menerapkan standar ganda terhadap kasus-kasus korupsi. Betapapun KPK memang sulit lepas dari kepentingan politik, apalagi proses pemilihan semua pimpinannya harus melalui lembaga politik seperti DPR. Sehingga ada joke bahwa KPK sejatinya menerapkan mekanisme partai politik, di mana anggotanya selalu membela pimpinannya. Siapakah pemimpin KPK yang sejati? Apakah komisionernya, DPR yang memilihnya, atau presiden yang melantik mereka?

Dua skenario ini mungkin saja terjadi. Tetapi, skenario apapun yang sebenarnya terjadi, publik sudah mencatat dukungan TGB untuk Jokowi ini. Dan yakinlah, publik pula yang akan menghukumnya.

Oleh:  Eka Pratama, pengamat politik umat Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here