Tolak Perda Syariah Sinyal PSI Anti Kebhinekaan?

    0

    Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sedang disorot. Semua gara-gara pidato sang Ketua Umum Grace Natalie. Kata Grace, PSI yang diprediksi LIPI cuma dapat 0,2 persen suara dalam Pileg 2019 ini, akan menolak perda syariah dan segala bentuk perda agama bila partainya lolos ke Senayan.

    Tak pelak publik langsung heboh. Mulai dari tokoh agama, akademisi, politisi hingga masyarakat umum langsung mengecam pidato itu. Sudah ramai pula di medsos suara-suara untuk menenggalamkan PSI. Betapa malangnya! Sudah diramal banyak lembaga survei tidak akan lolos parliamentary threshold 4 persen itu, PSI mau diboikot juga.

    Tapi fenomena ini salah PSI sendiri. Pidato Grace telah mengingkari kebutuhan masyarakat hari ini. Pidato Ketua Umum PSI itu juga mengkhianati konsep kebhinekaan yang dipegang teguh bangsa Indonesia.

    Padahal perda agama tidak bertentangan dengan Pancasila. Bukankah sila pertama dalam Pancasila membahas tentang “Ketuhanan”? Tidak melanggar konstitusi UUD 1945. Dan di dalam pembukaan Undang-Undang tertulis kalimat “Atas berkat rahmat Allah”.

    Perda agama sejatinya memperkuat hukum positif yang ada di UU. Proses penyusunannya pun tidak serampangan. Ada pembahasan ekskutif dan legislatif di tingkat daerah. Melibatkan masyarakat setempat. Jangan lupakan pula kajian dari pemerintah pusat. Proses panjang ini memastikan bahwa setiap perda pasti berhaluan Pancasila, Konstitusi dan tidak bertentangan dengan UU.

    Lalu, adakah perda agama yang intoleran? Rasa-rasanya tidak. Sampai sekarang kita tidak pernah mempersoalkan Perda Syariah di Aceh. Juga spirit Kristiani dalam perda-perda di Papua. Kita juga menghormati perda agama di Bali, termasuk saat masyarakat di sana ingin merayakan Hari Raya Nyepi secara khusyuk. Inilah potret keberagaman di Indonesia. Kekhasan daerah diberi ruang.

    PSI juga tak perlu alergi dengan istilah syariah. Apalagi di Indonesia! Ada ekonomi syariah, bank syariah, fitness syariah, dan hotel syariah dan lain-lain. Pengelolaan zakat diatur oleh peraturan perundangan-undangan. Dan hari ini kita melihat bertumbuhnya LAZIS yang berkontribusi aktif untuk memajukan Indonesia, mengentaskan kemiskinan.

    Semua kebaikan ini sudah ada pada era Indonesia merdeka, dan mencapai puncaknya pada era kepemimpinan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Semua ini lahir dari spirit agama yang diletakan dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. Keduanya klop. Tidak ada pertentangan di sana.

    Lantas mengapa hari ini PSI teriak anti perda agama dan utamanya perda syariah? Ada tiga kemungkinan. Pertama, PSI tidak paham subtansi dan manfaat perda-perda agama? Jika ini yang terjadi, sudah seharusnya PSI minta maaf kepada bangsa Indonesia dan umat beragama.

    Kedua, PSI menjadi agen untuk menciptakan Islamophobia? Pandangan ini sudah dilontarkan oleh banyak kalangan. Makin hari ke hari sinyal-sinyal ke arah sana semakin menguat.

    Ketiga, ini manuver serampangan untuk mendongkrak popularitas PSI. agar PSI terus jadi pusat perhatian publik. Maklum hasil survey selalu menempatkan PSI sebagai partai yang tidak akan lolos ke Senayan.

    Apapun landasannya, pidato Grace adalah kesalahan dalam aras kebhinekaan bangsa kita. Malahan bisa disebut membahayakan. Bisa saja ada kalangan yang memaknai PSI telah melecehkan agama sebab tidak memercayai agama-agama yang berkembang di Indonesia memiliki spirit toleransi kepada agama lain. PSI sedang bermain api. Bahaya!

    Oleh: Zainal Awaluddin, pemerhati sosial politik.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here