Tradisi Persekusi Penggunting Persatuan Dan Disharmoni Politik

0
ilustrasi masyarakat Papua. (puncakjayakab)

Bukanlah perkara mudah untuk menjadi dewasa dalam bersikap melihat perbedaan sebagai kekuatan. Ego yang berakumulasi dari sikap memandang lebih baik golongan, etnis, kepercayaan, status sosial dan asal usul.

Terlebih ketidak matangan bersikap ini membuncah dalam gegap era teknologi digital yang dengan mudah bergerak liar. Dimana kelatahan dalam menelan informasi yang terpotong dan membagikannya memunculkan kerusakan akibat bola salju informasi tanpa data, fakta dan kajian lengkap.

Kerusuhan yang terjadi di Papua menjadi perlambangan tentang dampak dari tradisi perkusi. Bagaimana informasi yang terpotong dan tidak utuh ditambah dengan ucapan perkusi sesama anak bangsa melahirkan gejolak sosial dan memicu konflik.

Gelombang protes dan pembakaran yang terjadi saat ini adalah tragedi, sekaligus ujian pemerintah untuk menjaga persatuan Indonesia. Termasuk melakukan upaya perbaikan hubungan antar sesama anak bangsa. Penerapan hukum disatu sisi dengan tegas, tanpa melupakan pendekatan (smart power) kekuasaan secara cerdas terkait dengan keadilan dan pemerataan kesejahteraan bagi rakyat Papua.

Sampai saat ini rakyat papua masih melakukan demonstrasi. Sebelumnya ribuan rakyat berdemo jalan kaki sepanjang 18 kilometer dari Waena, pusat keramaian di kota itu, menuju kantor gubernur; menuntut rasialisme terhadap orang Papua harus dihentikan.

Pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe bahkan tegas berkata bahwa “kami bukan bangsa monyet, kami manusia.” Adalah puncak dari persoalan perkusi atas papua yang selama ini mengalami diskriminasi dalam berbagai sektor terutama kebijakan-kebijakan stategis.

Sebelumnya di Manokwari, situasinya lebih panas. Gedung parlemen daerah dibakar. Pohon di tepi jalan ditebang. Ban dibakar. Melumpuhkan aktivitas dan mobilitas warga. Di Sorong, sebuah kota pantai di ujung kepala burung Papua, fasilitas publik seperti bandara dirusak.

Baca juga  Cagub Jawa Barat TB Hasanudin Akan Diperiksa KPK

Banyak mobil-mobil di lahan parkir bandara itu dirusak. Penerbangan lumpuh dalam beberapa jam. Jalan raya lumpuh. Aksi ini bagian dari perlawanan spontanitas atau ada motif selain respons atas perkusi mahasiswa papua di Jawa. 

Ada pandangan-pandangan tertentu terhadap orang Papua dan menjadi perkusi pada “kekurangan” orang Papua: kurang tata krama, kurang pakaian, kurang “cantik” atau “tampan”, minim sinyal internet, kurang fasih berbahasa Indonesia, hingga kurang “beradab”.

Hal ini terus  terpelihara dan dipraktikkan mulai dari zaman penjajahan Belanda. Indonesia hari ini mengulanginya: Percaya bahwa Papua serba kekurangan. Sebuah PR besar anak bangsa terutama pemangku kebijakan menyikapi ancaman disintegrasi bangsa di Papua.

Persatuan Indonesia dengan mengurangi perkusi dengan pendekatan harmoni politik terhadap Papua mesti digalakkan. Melihat secara objektif dan tidak tergesa-gesa dengan menempatkan penerapan hukum semata.

Mesti ada pendekatan smart power berbasis keadilan, kesetaraan sesama anak bangsa untuk menjaga Papua tetap bagian dari Indonesia. Tanpa ini, perkusi sesama anak bangsa, apalagi menggunakan pendekatan tanpa keadilan, penegakan hukum proporsional akan mempercepat perpecahaan Indonesia. Dan kita tidak ingin kejadian Timor Leste berulang di Papua.

Oleh: A. Pandu Wijaya Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here