Dukung Prabowo-Sandi Tanpa Syarat, Kedewasaan Berpolitik Partai Demokrat

0
Dukung Prabowo-Sandi Tanpa Syarat, Kedewasaan Berpolitik Partai Demokrat

Tak banyak yang menduga, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bakal legowo mendukung pencalonan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Meski berkali-kali janji tak ditepati oleh rekan koalisi, sejumlah kesepakatan tak dijalankan, bahkan tak sedikit pula kebijakan yang secara sepihak diputuskan, namun Presiden RI ke-6 itu tetap berlapang dada. Dengan penuh gelak tawa, ia meneken surat dukungan bagi dua kader Partai Gerindra itu untuk berlaga dalam Pilpres 2019.

Padahal, sebelumnya, banyak yang mengira, Demokrat akan berlabuh di koalisi yang mengusung petahana, yakni pasangan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin. Walau sejumlah pimpinan partai koalisi Jokowi itu mengaku menutup pintu bagi Demokrat, toh kenyataannya bukan mereka juga yang menentukan.

Sebab pada malam sehari jelang waktu terakhir pendaftaran, ada tiga menteri dari Kabinet Kerja Jokowi yang intens berkomunikasi dengan elite kader Demokrat. Mereka semua menjamin ada tempat bagi partai berlambang bintang mercy itu jika ingin bergabung.

Namun, SBY bukanlah tipikal politisi yang suka mengkhianati komitmen. Ia sebelumnya sudah berujar akan mendukung Prabowo di Pilpres 2019. Sedangkan untuk posisi cawapres, ia menyerahkan sepenuhnya kepada capres, agar kemudian dikomunikasikan bersama parpol koalisi untuk disepakati.

Memang, terjadi dinamika politik, saat Prabowo menunjuk Sandi sebagai pendamping. Tetapi, riak protes yang terjadi bukan bersumber dari rasa cemburu, lantaran bukan kader Demokrat yang dipilih. Melainkan karena proses penunjukkan yang dinilai tidak beretika dan jauh dari sopan santun serta fatsun politik SBY.

Sebagaimana diketahui bersama, Wakil Sekjen Demokrat, Andi Arief, mengungkapkan, bahwa Sandi membayar Rp 500 miliar agar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) mendukungnya sebagai cawapres.

Rumor ini sulit dibantahkan, karena dua partai ini sebelumnya ngotot mengajukan nama kader masing-masing, bahkan usulan itu dilabeli “harga mati”. Tapi ketika Sandi muncul, mereka benar-benar melunak. Sepertinya harga itu sudah dibayar tunai.

SBY tak menerima cara-cara seperti ini. Bagi dia, berkoalisi dalam kontestasi, tak patut dilandasi oleh politik transaksi. Ini jelas sangat merusak nilai-nilai demokrasi.

Selain itu, elektabilitas Sandi juga sangat rendah. Ia pun berasal dari partai yang sama pula dengan Prabowo, yakni Gerindra. Jadi, pencalonan ini jelas sangat menguntungkan partai mereka saja. Ini yang sulit diterima.

Apalagi, kebijakan ini tak pernah dibicarakan sebelumnya. Sejak awal, Prabowo selalu mengajak Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi calon pendampingnya. Bahkan dalam pertemuan ketiga dengan SBY, Prabowo masih berbicara soal waktu deklarasi dan pendaftaran Prabowo-AHY ke KPU. Namun, belum 24 jam setelah pertemuan itu, Gerindra bermanuver dengan mengubah kesepakatan politik secara sepihak.

Alasannya, PKS dan PAN tidak bisa menerima AHY. SBY lantas membuka ruang dialog untuk mencari figur baru yang potensial. Siapa saja, yang penting berpeluang menang dan bisa diterima oleh semua pihak. Lagipula sejak awal dia juga tidak pernah menawarkan AHY. Justru Prabowo sendiri yang memintanya.

Prabowo berjanji membahas masalah ini dengan mitra koalisi, bahkan kabarnya ia menyanggupi untuk mengganti nama Sandi. Tapi yang terjadi, mereka malahan menggelar deklarasi.

Meski begitu, pada akhirnya SBY tetap menunaikan janji untuk mendukung tanpa syarat. Inilah sebuah kedewasaan dalam berpolitik. Semua dinamika terjadi, semata-mata karena alasan etika dan hitung-hitungan untuk meraih kemenangan.

Kini, SBY dan AHY sudah bertekad memenangkan pasangan ini dengan sungguh-sungguh. Begitu pula dengan para kader mereka yang mulai mencoba merapatkan barisan bersama rekan-rekan koalisi. Beginilah seharusnya politik itu dijalankan. Meraih kemenangan dengan menjunjung tinggi etika berdemokrasi, bukan mengedepankan ambisi pribadi dan syahwat berkuasa serta nafsu ingin menang sendiri.

Oleh: Patrick Wilson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here