Saling Intip Cawapres, Bukti Koalisi Parpol Galau?

0
Saling Intip Cawapres, Bukti Koalisi Parpol Galau?

Tanpa terasa kita sudah terjebak dalam adegan “sandera menyandera” politik dalam perhelatan Pilpres 2019 yang akan datang. Sangat jelas saling sandera ini terlihat. Kedua kubu yang disebut sebut sebagai kubu pengusung pasangan capres/cawapres saling tunggu dan intip dan juag saling rebut.

Sebutlah kubu Capres Jokowi yang berstatus petahana, sampai saat ini, meski menyebut sudah mengantongi lima nama kandidat cawapres, namun masih belum juga mengumumkan nama pendamping Jokowi di Pilpres.

Hal yang sama, juga terjadi di kubu Prabowo Subianto yang diklaim sebagai penantang serius Jokowi. Sampai hari ini, Prabowo juga masih disibukkan dengan urusan menentukan siapa yang akan berpasangan dengan Prabowo ditengah desakan agar ia sendiri diminta mengundurkan diri dari pencapresan dan memberikan kesempatan kepada darah baru untuk menjadi penantang Jokowi.

Kedua kubu memang saling intip, saling pantau dan saling menunggu. Tapi entah sampai kapan hal itu akan berlangsung. Alasan yang dikemukakan para petinggi partai politik adalah mereka masih disibukkan dengan proses pencalonan anggota legislatif untuk Pileg 2019 yang pelaksanaannya bersamaan dengan Pilpres.

Tidak ada yang bisa membantah hal itu, namun bukankah menentukann satu orang capres atau cawapres tidak sejelimet menentukan puluhan atau ratusan orang untuk menjadi anggota DPR/DPRD.

Yang membuat terasa aneh adalah partai politik beralibi mereka mengalami kesulitan melakukan konsolidasi dan mencapai kesepakatan antar sesama mereka.

Baca juga  Fahri: Kebohongan RS Bisa Untungkan Prabowo

Saya jadi teringat ucapan Sekjend PPP Asrul Sani yang dengan yakinnya berkata kepada wartawan bahwa partai politik anggota koalisi pemerintah akan menggelar pertemuan guna melakukan rapoat finalisasi penentuan nama cawapres serta format koalisi ke depan.

Asrul boleh saja berkata demikian, namun disisi lain Ketua Umum Partai Golkar malah bermanuver dengan menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Partai Demokrat dan terakhir dengan Ketua Umum PDI-P. Konon beredar info bahwa Airlangga mengincar kursi Cawapres Jokowi, sehinga ketua partai beringin itu aktif menggelar safari politik kemana mana.

Pertemuan yang disampaian Asrul tak kunjung terlaksana. Meski beberapa kali Presiden Jokowi mengatakan kepada wartawan bahwa ia sudah mengantongi nama cawapres, termasuk nama “Mbok Sabar” yang berasal dari jawaban Jokowi saat didesak wartawan untuk menyebutkan nama nama kandidat pendampingnya.

Sementara kubu Prabowo juga tak kalah pusing. Koalisi ini disebut sebut masih belum final soal nama calon presiden. Beberapa nama masuk ke dalam koalisi ini sebagai kandidat orang nomor satu. Salah satunya adalah nama Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purnawirawan) Gatot Nurmantyo yang disebut sebut tengah mesra dengan Partai Amanat Nasional.

Hal lain yang harus dihadapi oleh kubu ini adalah ancaman dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menolak berkoalisi dengan Prabowo jika salah satu dari sembilan nama yang mereka ajukan sebagai cawapres tidak diidahkan.

Baca juga  “Kita Negara Kaya” tuk Pesta diantara Nestapa Korban Gempa NTB & Sulteng

Prabowo pusing, Jokowi juga demikian. Saya melihat kedua alasan inilah yang membuat kedua kubu seperti saling intip apa yang akan diputuskan. Padahal, patut dicatat, waktu pendaftaran capres/cawapres tinggal hitungan hari.

Memang situasi dan kondisi politik saat ini menjadi situasi yang sangat penting dan memerlukan kecermatan dalam melalukan kalkulasi politik. Salah salah mengambil keputusan negara taruhannya. Komunikasi dan pengkajian antar partai harus terus dilakukan.

Saya meyakini dengan alasan tersebut, strategi saling intip ini akan terus dilakukan sampai/hingga mendekati 10 Agustus bulan depan. Dan selama itu pula drama drama politik akan tersaji. Semoga saja, publik tidak jenuh dan berubah menjadi apatis. Apalagi praktik sandera seperti ini terus berlangsung, saya menjadi khawatir kelak saat pengumuman nama capres/cawapres, antusiasme itu sudah sirna karena terlanjur memudar tersebab ulah politisi. Dan kalau itu terjadi, kita sepertinya gagal menjalankan proses demokrasi.

Semoga saja tidak, salam.

Oleh – Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here