Seperti Tumbangnya Megawati, “Hukuman” Rakyat Bakal Kandaskan “Buaya” Politik Kubu Jokowi

0
Seperti Tumbangnya Megawati, “Hukuman” Rakyat Bakal Kandaskan “Buaya” Politik Kubu Jokowi

Menjelang pendaftaran capres-cawapres, kubu Jokowi marak bikin pencitraan. Dari pertemuan marathon para sekjen parpol koalisi sampai rapat akbar para relawan. Targetnya terang benderang. Kubu Jokowi mau membangun citra bahwa mereka mustahil dikalahkan.

Modal di atas kertas memang mendukung. Koalisi Jokowi boleh dibilang punya segalanya. Punya dukungan 9 parpol: PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem, HANURA, PKPI, Perindo, dan PSI. Status petahana membuat perangkat negara–BIN, POLRI, TNI, BUMN dan kemendagri–relatif “dekat” ke kubu Jokowi. Pengusaha papan, media massa, hingga kaum minoritas terkesan lebih memberi angin kubu petahana.

Sementara kubu oposisi kurang segalanya. Poros Prabowo cuma didukung empat parpol: Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS. Selebihnya adalah tekad dan semangat untuk mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik.

Wajar bila muncul isu Pilpres 2019 ibarat “cicak versus buaya”. Poros “cicak” Prabowo melawan poros “buaya” Jokowi yang megah. Mana mungkin cicak bisa mengalahkan buaya?

Tetapi matematika politik bukan matematika ilmu pasti. Buktinya pada Pilpres 2004, Megawati kandas juga oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal situasi Pilpres 2004 mirip-mirip dengan situasi hari ini.

Baca juga  Jokowi Sebut Laporan IndonesiaLeaks Terkait Dua Perwira Polri Urusan KPK

Kala itu koalisi Megawati didukung banyak parpol, sekitar 85% dari kekuatan politik legislatif. Sementara koalisi SBY cuma didukung empat parpol, sekitar 15% dari suara di DPR. Sebagai kandidat petahana, Megawati pun relatif menikmati “dukungan” perangkat negara, pengusaha papan atas hingga kaum minoritas. Kalau dipikir-pikir, dengan modal politik “buaya” itu mustahil bila Megawati tumbang. Tetapi nyatanya SBY juga yang unggul pada Pilpres 2004.

Ini membuktikan ada yang lebih penting dari kuat-kuatan di atas kertas. Faktor itu adalah momentum! Keresahan sosial yang melanda rakyat Indonesia telah menerbitkan gelombang harapan pada pemimpin baru di Pilpres 2004.

Ketidakbecusan Megawati mengelola negara dan pemerintahan membuat rakyat menjatuhkan hukuman kepadanya. Semangat inilah yang ditangkap dengan baik oleh SBY. SBY muncul sebagai sosok yang mampu mengatasi persoalan-persoalan rakyat banyak. Semangat inilah yang membuat rakyat berduyun-duyun lebih memilih SBY ketimbang Megawati di Pilpres 2004.

Adakah faktor momentum saat ini? Terang sudah tanda-tandanya. Rakyat resah atas beban hidup yang tak kunjung membaik. Rakyat kecewa dengan pengabaian demi pengabaian yang dilakukan pemerintahan Jokowi. Rakyat mengeluh atas diskriminasi di bidang ekonomi, hukum, sosial dan politik. Betapa pembangunan massif yang bersumber dari utang itu ternyata tidak berdampak positif bagi kehidupan mereka.

Baca juga  Harmoni Keluarga Negara Bertetangga

Keresahan ini terpotret dengan amat baik di media massa. Suara-suara di media sosial hingga hasil survei seluruh lembaga survei makin memperkuat kehadiran semangat perubahan.

Sinyal keinginan akan pemimpin baru meluncur lewat masifnya tagar #gantipresiden2019. Tak sampai sebulan digaungkan, tagar itu sudah populer di benak 60% rakyat Indonesia. Dan mereka ini, rata-rata ingin kepemimpinan baru pada 2019.

Angin perubahan yang berhembus kencang ini membuat saya optimis.  Jokowi akan tumbang di Pilpres 2019, bahkan sekalipun dirinya didukung oleh “dinosaurus” politik. Karena kalau rakyat sudah berkehendak, pencitraan apapun pasti akan kandas.

Oleh: Bagas Wicaksono, pengamat ekonomi politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here