Kuat Aroma Operasi Intelejen, Ada Budi Gunawan di Persekusi CFD?

0
Kuat Aroma Operasi Intelejen, Ada Budi Gunawan di Persekusi CFD?
Budi Gunawan

Sekelompok orang yang pendukung tagar #2019GantiPresiden diduga melakukan persekusi kepada massa pendukung #Dia Sibuk Kerja di area Car Free Day (CFD). Kabar ini benar-benar mengelisahkan.

Jika benar, ini jelas bukan budaya Indonesia. Terlebih, persekusi ini dilakukan oleh sekelompok lelaki dewasa kepada seorang Susi Ferawati, seorang ibu dan anaknya; juga Stedi Repki Watung.

Kejanggalan ini mendorong saya untuk menelisik lebih jauh. Menurut saya, kejadian ini cuma settingan politik. Ada beberapa kejanggalan dalam kejadian ini.

Pertama, polisi sudah memisah dua massa yang berbeda orientasi ini. Kaum #diasibukkerja di seputaran Patung Kuda, sementara sisanya di Bundaran HI. Jadi secara logika, seharusnya kedua massa tidak bertemu. Pertanyaannya kenapa bisa bertemu? Oh, barangkali tertinggal, atau ada alasan manusiawai; kebelet dan mencari toilet.

Mungkinkah hal remeh semacam ini luput oleh polisi? Saya semakin sangsi saat mendengar penyataan Wakapoldi Komjen Syafruddin. Dia mengaku polisi telah bertindak keliru. Dengan alasan apapun, polisi yang bertugas harus memisahkan kedua kelompok itu agar tak bertemu.

Kejanggalan kedua, bagaimana bisa pendukung tagar #2019GantiPresiden bertindak barbar kepada Susi dan puteranya? Melambai-lambaikan duit seratusan ribu? Merangkul Susi seolah-olah dia istrinya? Terlebih, motornya adalah Efendi Saman, seorang yang mendaku sebagai Koordinator Nasional Gerakan #2019GantiPresiden.

Logikanya begini. Sebagai Koornas, Efendi semestinya hati-hati. Tersebab tindakan buruk pasti membikin cedera citra Gerakan #2019GantiPresiden. Alih-alih, Efendi Saman malah maju ke depan. Dia melakukan persekusi. Belakangan, saya ketahui Efendi Saman bekas relawan pemenangan Jokowi.

Kejanggalan ketiga, respon dari Susi Ferawati, ibu yang mengaku diintimidasi ini. Secara spontan, dia berteriak, “Muslim apa kalian?” Lha, dari mana dia tahu kalau pelaku intimidasi itu adalah kaum muslim? Apa orang-orang itu pakai sarung atau kopiah?

Baca juga  Malprosedur, Fakta Kelam Di Balik Kasus Ratna Sarumpaet

Tapi yang terpenting lagi, kenapa harus muslim yang ujug-ujug disalahkan? Padahal, gerakan #2019GantiPresiden bukan otoritas umat muslim. Saya yakin dan percaya ada kalangan non-muslim yang juga mendukung gerakan #2019GantiPresiden. Jangan-jangan ini masalah citra? Ada upaya mendiskreditkan umat Islam di sini.

Dan benar saja. Belakangan Susi muncul di media dengan mengenakan kerudung sewaktu melaporkan kasusnya ke polisi. Padahal, dalam acara CFD, Susi nyata-nyata tidak berkerudung. Bukankan ini, lagi-lagi urusan pencitraan?

Keempat, adalah temuan gelang kode itu. Saya lebih percaya Jokowi bisa jadi presiden RI tiga periode, ketimbang menemukan pihak yang mengintimidasi dan yang terintimidasi sama-sama mengenakan gelang yang serupa. Warnanya sama-sama coklat, bentuknya sama-sama butir-butir yang diikat. Kesamaan ini ada dalam dua video cuplikan kejadian ini.

Mustofa Nahrawardaya, aktivis gerakan #2019GantiPresiden, bahkan mengaku ada yang merebut spanduk dan kaus yang dibawa istrinya. Dan saat ditanya, lelaki itu mengaku sebagai polisi, yang ternyata juga mengenakan gelang yang sama dengan pelaku persekusi, juga korban persekusi yakni Susi Ferawati dan Stedi Repki Watung.

Kejanggalan demi kejanggalan ini membuat saya berpikir. Jangan-jangan benar ada operasi intelejen di sini. Siapa yang mengatur polisi sehingga lalai? Siapa yang mendorong supaya sekelompok lelaki penolak Jokowi jadi bersikap selayak bedebah? Siapa yang menyusupkan Efendi Saman yang dulu pendukung Jokowi kini mendaku diri sebagai Koornas Gerakan #2019GantiPresiden? Siapa yang membisik sehingga Susi Ferawati bisa berlaku dramatis: “Muslim apa kalian?” Dari mana gelang coklat yang dikenakan oleh pelaku dan korban persekusi, hingga lelaki yang mengaku sebagai polisi? Betapa rapinya settingan yang disusun. Sulit membayangkan ini terjadi secara kebetulan.

Baca juga  Jika “Brankas Suap” PDIP Terbukti, Partai Banteng Bisa Bubar

Siapa orang besar dibalik operasi intelejen ini? Dugaan saya, Kepala BIN, Budi Gunawan-lah orangnya. Sebagai Kepala BIN, Budi Gunawan membawahi banyak agen-agen intelejen yang siap disusupkan ke mana-mana. Sebagai mantan Wakapolri, Budi Gunawan tentu masih punya klik di tubuh kepolisian. Mengatur agar sepasukan polisi agak lalai tentu bukan masalah besar bagi dirinya.

Apa motifnya? Tentu mendegradasi Gerakan #2019GantiPresiden untuk mengamankan Jokowi agar terpilih di periode kedua. Bukankah sudah beredar kabar bahwa PDIP akan menyorongkan Budi Gunawan sebagai cawapres-nya Jokowi? Masih ingat dugaan kasus intimidasi Lucas Enembe di rumah dinas Budi Gunawan yang konon bertujuan untuk memastikan kemenangan Jokowi dan PDIP di tanah Papua?

Terlepas dari settingan ini, kita menolak adanya persekusi. Siapapun pelakunya, harus disanksi tegas. Tetapi harapan kita, polisi jangan cuma mengendus apa yang ada di permukaan. Apa yang dibalik layar juga harus disingkap. Kita tidak ingin hanya gara-gara urusan ‘teruskan Jokowi’ atau ‘ganti Jokowi’, nama umat Islam ternoda, rakyat Indonesia terpecah-belah.

Oleh: Arief Rahman, warganet bermukim di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here