Teror Bom Terus Berulang, Pemerintah Lalai Besar

0
Teror Bom Terus Berulang, Pemerintah Lalai Besar
Polisi menghentikan dan memeriksa warga yang melintas di Jalan Niaga Samping setelah terjadi ledakan di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5). Ledakan terjadi pada Senin (14/5) pagi di depan pos penjagaan pintu masuk Polrestabes Surabaya. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Terorisme kembali menampakkan diri dalam wujud yang menakutkan. Tanpa peringatan, bom demi bom meledak di tempat umum selama dua hari berturut-turut. Merenggut belasan korban jiwa yang tak tahu apa-apa.

Kian memiriskan lagi, para pelaku biadab yang tak punya nurani, membawa anak-anak mereka untuk menjadi tumbal dalam aksi keji ini. Tiga kali peristiwa ini terjadi, di dua kota dalam satu provinsi. Jika ada pihak yang harus disalahkan akan peristiwa ini, tentu yang paling bertanggungjawab sudah pasti adalah pemerintah. Mereka lalai melindungi warga negara!

Ketentraman di Minggu (13/5/2018) pagi terusik saat bom meledak di tiga gereja berbeda di Surabaya, Jawa Timur. Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna, GKI Diponegoro, dan Gereja Santa Maria Tak Bercela. Sejumlah orang meninggal dunia, termasuk anak-anak, dan puluhan orang terluka. Malamnya, kejadian serupa terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Tiga orang meninggal dan dua anak dirawat karena menderita luka serius. Serasa belum cukup meneror warga, dua ledakan bom kembali terulang di Mapolrestabes Surabaya pada Senin (14/5/2018) pagi. Polisi dan warga sipil menjadi korban karena peristiwa tersebut.

Ke mana Badan Inteligen Negara (BIN)? Kenapa lembaga yang memiliki budjet besar, yang anggarannya tahun ini meningkat menjadi Rp5,6 triliun, tak mampu mendeteksi dini aksi teror yang terjadi berulang kali ini? Apa karena pemimpinnya lebih sibuk berpolitik ketimbang mengurusi potensi teror yang merongrong ketentraman rakyat Indonesia? Mengutip pernyataan Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, peristiwa teror kali ini bukanlah kecolongan, tetapi sebuah kelalaian besar.

Di satu sisi, kita mengapresiasi kinerja Polri yang dengan cepat bisa mengidentifikasi pelaku teror. Tak berselang lama, para pelaku bisa diketahui identitas dan riwayat hidup mereka. Namun, yang menjadi pertanyaan juga, kenapa bisa terulang lagi? Toh Kapolri Tito Karnavian sudah tanpa ragu menuding pelaku bom gereja merupakan alumni perang Suriah. Ia juga mengklaim sudah mengetahui jaringan teroris tersebut, yakni dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Tapi hanya beberapa jam setelah Tito mengumbar klaim itu, bom kembali meledak. Bahkan esoknya, kantor instansinya sendiri yang menjadi sasaran teror.

Jika kinerja aparat intelijen seperti ini, gimana rakyat bisa kembali memperoleh ketentramannya? Kini kita semua ketakutan. Mau beribadah, bersekolah, pergi ke tempat kerja, banyak orang yang dihantui ancaman terorisme. Bagaimana bisa hidup tenang, kalau kantor polisi saja bisa dengan gampang dibom, dan aparat tak mampu mendeteksi hal ini bakal terjadi sebelumnya.

Sementara tindakan pemerintah juga kian memperkeruh suasana. Alih-alih bergandengan tangan fokus menangani persoalan ini, memastikan aksi teror tidak kembali terjadi, Presiden Joko Widodo justru melempar tanggung jawab ke DPR. Ia menuding lemahnya pengawasan terkait terorisme akibat tak kunjung disahkannya revisi Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Terorisme. Karena itu ia berujar hendak mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terorisme pada bulan Juni, jika UU Terorisme tak juga disahkan.

Pernyataan itu langsung dibantah Ketua DPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet). Menurutnya, tertundanya pengesahan revisi UU tersebut justru karena sikap pemerintah, yang belum sepakat tentang definisi terorisme. Jadi pihak Jokowi sendiri yang minta pengesahan ditunda karena belum adanya kesepakatan.

Inilah yang membuat kita semakin mengelus dada. Intelijen seolah tak bekerja, pemerintah juga amburadul dalam mengelola Negara. Wajar saja jika di negeri ini terorisme tumbuh subur merajalela, mengancam hidup keseharian masyarakat yang tak berdosa.

Oleh: Patrick Wilson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here