Teror, SARA, dan Hoaks, Negara Harus Bertanggung Jawab

0
Teror, SARA, dan Hoaks, Negara Harus Bertanggung Jawab

Negara kita belakangan ini sedang diuji kekompakan dan persaudaraannya. Berbagai aksi teror, SARA, dan hoaks merongrong kebebasan kita dalam beraktivitas. Ramalan bubarnya Indonesia yang pernah menjadi viral seakan dibenarkan dengan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara kita hari ini. Negara lemah dalam hal ini.

Pemimpin negara ini terlalu sibuk memancang tiang beton di seluruh negeri. Besi-besi raksasa dihujam untuk memperkokoh citra penguasa. Seakan persoalan kebangsaan akan selesai dengan pembangunan. Layaknya harapan Bandung Bondowoso yang mengharapkan cinta Roro Jongrang dengan membangun 1000 candi dalam semalam.

Dibalik sebuah suksesnya pembangunan ada hal yang lebih penting dibangun, yaitu rasa aman dan rasa keadilan. Hal tersebut luput dari perhatian pemerintah. APBN semuanya tersedot untuk hal-hal fisik, namun pembangunan manusianya terabaikan.

Semua kita hari ini ketakutan untuk menjalankan peribadatan sesuai agamanya masing-masing. Aksi teror serentak di Surabaya beberapa waktu yang lalu lemahnya perhatian pemerintah terhadap permasalahan sosial. Pemerintah berdalih, negara kecolongan.

Sementara itu yang tidak kalah menakutkan adalah sentiment suku, agama, rasa antar golongan (SARA). Isu ini mencabik kebhinekaan kita. Apalagi jika SARA ini dibingkai dalam konteks media sosial.

Media sosial yang sejatinya merupakan sarana komunikasi sekarang berubah menjadi sarana adu domba. Masyarakat kita dijebak dan disuapi oleh informasi yang tidak bergizi dan bahkan meracuni pikiran dan nurani (hoaks). Padahal untuk mengantisipasi hal ini sudah ada badan-badan tersendiri.

Memang ada beberapa pegiat media sosial yang ditindak oleh pihak yang berwajib. Namun masyarakat awam menilai penindakan yang dilakukan tersebut jauh dari kata adil. Hal ini dikarenakan karena penindakan yang dilakukan hanya menyasar pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah berkuasa.

Sementara itu, pihak yang setiap harinya membela penguasa serta membangun kericuhan membabi buta yang menyerang kelompok oposisi (di luar pemerintahan) seperti diabiarkan atau dipelihara. Sekalipun nyata apa yang di upload nya adalah hal-hal yang sifatnya provokatif dan mencemarkan nama baik pemerintah.

Misalnya, ada salah satu akun anonym yang menyebar hoaks dengan mengunggah data pribadi seseorang. Hal tersebut tentunya melanggar ketentuan undang-undang dan hukum yang ada. selain itu ada juga akun yang menyebar fitnah tanpa ada bukti kuat dengan menyasar orang-orang di luar pemerintahan dengan mendegradasi pribadi mereka.

Ketiga hal di atas akhirnya menimbulkan persepsi bahwa istana dengan sengaja memelihara buzzer. Istilahnya Rocky Gerung “pembuat hoaks terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki semua peralatan untuk berbohong”.

Rasa aman dan rasa keadilan saat ini jauh dari perhatian pemerintah. Pemerintah harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan demokrasi kita hari ini. Negara harus mampu menghadirkan rasa aman dan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya kepada segelintir penjilat kekuasaan.

Edwin Putra Mahesa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here