Transfer Politikus Harga Milyaran, Ketika NasDem Ibarat Klub SepakBola

0
Transfer Politikus Harga Milyaran, Ketika NasDem Ibarat Klub SepakBola
sumber: asumsi.co

Piala Dunia baru saja berakhir, tetapi gegap-gempita pesta sepakbola terbesar di dunia belumlah usai. Kini giliran parpol-parpol di tanah air yang ikut-ikutan heboh. Pasalnya, ada rumor “transfer pemain” antar parpol dengan harga selangit.

Telisiklah di media sosial, dan kita akan membaca daftar politisi yang “dibajak” Partai Nasdem. Ada Okky Asokawati (PPP), Venna Melinda (Demokrat), Krisna Mukti (PKB), Lucky Hakim (PAN) yang pindah ke Nasdem dengan “mahar” masing-masing Rp5 milyar. Pun Anang Hermansyah (PAN) yang mencatat biaya transfer termahal, sebesar Rp15 milyar. Syaup-sayup terdengar Ida Riyanti dan Chris John, dua kader Partai Demokrat yang biaya transfernya tidak jelas—mungkin Rp5 milyar?

Apakah ini rumor? Tak jelas. Nyatanya, Ketua Umum PAN merangkap Ketua MPR Zulkifli Hasan (Zulhas) membenarkan fenomena “transfer pemain” di parpol jelang pendaftaran caleg Pemilu 2019 ini.

Meski fenomena ini benar, sejatinya tidak melanggar konstitusi. Dalam dunia politik, nyata pakem itu: setiap warga negara berhak dipilih dan memilih. Namun, secara etika politik dan moral, ada yang pudar di sini. NasDem berkontribusi atas penciptaan politik di tanah air yang makin pragmatis, tak beretika dan boleh jadi mendorong pelanggaran moralitas anggota DPR di hari kelak.

Saya menilai apa yang dilakukan Partai NasDem tidak sesuai dengan filosofi restorasi yang digaung-gaungkan Surya Paloh. Bahkan, kalau ditelisik mendalam, bertentangan dengan Revolusi Mental yang digema-gemakan Jokowi. Aneh memang, mengingat NasDem adalah salah satu parpol pendukung Jokowi, tetapi manuvernya malah menghancurkan visi yang hendak diwujudkan Jokowi.

Baca juga  Kubu Jokowi Cemas Militansi Relawan Prabowo

Ilustrasinya begini. Setiap warga negara berkecimpung dalam politik praktis untuk menyalurkan hak politiknya. Dia memang bebas berpindah-pindah parpol. Juga bebas berpindah-pindah institusi politik: misalnya dari DPR ke DPD, dari legislatif ke eksekutif, dan sebaliknya.

Yang perlu digarisbawahi, perpindahan ini hendaknya dilandasi semangat pengabdian, untuk berbuat lebih baik. Misalkan, parpol atau institusi dianggap tak lagi sesuai dengan spirit pengabdiannya, maka secara alamiah politikus tersebut akan berpindah.

Apa jadinya bila perpindahan alamiah ini dicemari oleh intervensi “tangan hitam”? Pindah karena diiming-iming uang? Model ini membuat politikus ibarat atlet sepakbola, dan parpol adalah klub. Muaranya caleg dan parpol bukan lagi instrument politik kerakyatan, melainkan perkakas industri. Yang ada di sana bukan apa yang “terbaik buat rakyat”, melainkan apa “yang terbaik buat gue” atau “gue dapat apa”. Sungguh celaka 12!

Dampak paling gampang, ya konflik antar parpol. Sebab laku ini lebih “jahat” ketimbang transfer atlet sepakbola. Kalau di industri sepakbola, masih ada sopan-santunnya. Transfer atlet akan diikuti pemberian  “uang terimakasih” kepada klub yang ditinggalkan. Dalam dunia politik tanah air: nol besar. Parpol yang ditinggalkan itu tak dapat “apa-apa”, hampir-hampir seperti orangtua miskin yang tak diakui anak-anak durhakanya. Konsolidasi demokrasi antar parpol jadi terganggu.

Baca juga  Bijak Menyikapi Pertemuan IMF di Bali

Fenomena “transfer” politikus ibarat—maaf—seonggok sampah yang mengundang lalat-lalat sumber penyakit. Pasalnya, laku ini butuh modal besar. Artinya ada celah bagi pemodal untuk “bermain”, untuk berinvestasi, transaksional. Maka jangan heran bila kelak politikus Indonesia seolah-olah jadi beking pemodal ketimbang bekerja untuk rakyat.

Dalam konsteks ini: di mana filosofi restorasi Partai NasDem itu? Sebagai parpol pendukung Jokowi, mengapa Partai NasDem malah mengganggu perwujudan Revolusi Mental?

Jadi apa yang harus kita lakukan? Publik harus benar-benar menyelidiki latar belakang caleg yang disodorkan parpol. Bila terbukti caleg itu berstatus “transferan”, saran saya jangan dipilih. Karena, jika dia bisa “durhaka” terhadap parpol asalnya gara-gara duit, apa jaminannya dia tidak akan durhaka kepada rakyat?

Oleh: Arief Permana, aktivis Jaringan Relawan Demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here